Tenun Songket Melayu Langkat

IMG_3245[1]Tenun  Songket Melayu Langkat yang merupakan salah satu khazanah dalam budaya  melayu sumatera timur , dalam perkembangannya kurang  terpublikasi secara umum, Perkembangan tenun  Songket Melayu yang biasa dipakai dalam budaya adat masih sebatas untuk pagelaran seni dan budaya semata. Upaya pengembangan Songket kedepan diupayakan untuk dapat mengisi ruang kosong  dalam desain dan seni yang dapat dipakai untuk pakaian kesaharian maupun desain enterior.

Penggunaan Songket dalam perkembangannya sudah dipakai oleh desainer dibeberapa pagelaran di mancanegara dan dipakai sebagai interior ruangan hal ini telah dilakukan oleh pecinta tenun songket , namun sangat disayangkan dalam khasanah desainer yang datang dan berkunjung ke sentra songket hanya sebagai tempat produksi , namun tidak pernah menyebutkan asal dan muasal songket itu berada. Dengan keanekaragaman Tenunan Songket ditemukan banyak kaidah-kaidah filosofis yang terkandung dalam patern/ motif di songket dan juga dibeberapa wilayah memiliki kaidah-kaidah yang berbeda dengan lainnya. Perkembangan songket dari masa-kemasa mengalami perubahan , dimana patern dasar yang menjadi ciri khas daerah mulai tergerus dengan masuknya para desainer yang hanya mementingkan desain yang mengakibatkan akar budaya dari filosofis dari songket asal kehilangan jati dirinya. Dibeberapa wilayah Pengrajin Tenun Seogket hanya menjadi sentra Produksi berdasarkan Pesanan semata. Salah satu penenun Songket yang ada di langkat yang masih memproduksi kain tenunan songket melayu langkat yang bertempat di tanjung pura , bercerita beberapa kain songket yang mereka produksi salah satunya dipakai oleh Pemangku Adat Kesultanan Negeri Langkat pada acara Penganugerahan Gelar Adat yang dilaksanakan dihalaman Masjid Azizi Tanjung Pura..

IMG_7248
Pengrajin Tenun Songket Melayu Langkat sumatera timur belum tergali dan terpublikasi secara umum , berbeda dengan dengan songket melayu Batubara maupun Palembang yang lebih tersohor. Namumpun begitu peran pengrajin songket Melayu Langkat yang dibidani oleh bapak Asfan dan Ibu Nafisah telah berkembang dan mengikuti pameran di luar negeri baik malaysia dan event di jakarta.
Beberapa Patern Tenun songket Melayu Langkat masih terjaga dan terawat keasliannya , dari beberapa ragam dan coraknya dengan beberapa corak seperti corak itik Berendam, tampuk Manggis dan beberapa motif yang dimiliki oleh bapak asfan yang memperkerjakan sepuluh Orang Pengrajin Tenun songket Langkat dan masih berlangngsung hingga sekarang.

100 Tahun Makhtab Jamiayah Mahmudiyah Tanjung Pura Langkat

Berdirinya madrasah Al-masrullah tahun 1912, madrasah Aziziah pada tahun 1914 dan madrasah Mahmudiyah tahun 1921, maka Langkat menjadi salah satu dari tempat yang dituju oleh pencari-pencari ilmu dari berbagai daerah. Disebutkan bahwa selain dari masyarakat Langkat yang belajar pada kedua maktab tersebut, maka banyak pelajar-pelajar yang datang dari dalam dan luar pulau Sumatera, seperti Riau, Jambi, Tapanuli, Kalimantan Barat, Malaysia, Brunei dan lain sebagainya.

Pada awalnya madrasah (maktab) ini hanya disediakan untuk anak-anak keturunan raja dan bangsawan saja, namun pada perkembangannya maktab ini memberikan kesempatan kepada siapa saja untuk dapat belajar dan menuntut ilmu. Beberapa tokoh nasional yang pernah belajar di maktab ini antara lain adalah Tengku Amir Hamzah dan Adam Malik (mantan wakil presiden RI).

Dalam biografinya Adam Malik meyebutkan bahwa madrasah Al-masrullah termasuk lembaga yang mempunyai bangunan bagus dan modern menurut ukuran zaman tersebut. Di mana masing-masing anak dari keluarga berada (kaya) mendapat kamar-kamar tersendiri. Sistem pendidikan yang dijalankan pada sekolah ini sama seperti sistem sekolah umum di Inggris, di mana anak laki-laki usia 12 tahun mulai dipisahkan dari orang tua mereka untuk tinggal di kamar-kamar tersendiri dalam suasana yang penuh disiplin. Fasilitas-fasilitas olah raga juga disediakan di sekolah tersebut seperti lapangan untuk bermain bola dan kolam renang milik kesultanan Langkat.

Ketiga lembaga pendidikan tersebut didirikan oleh sultan Abdul Aziz yang kemudian diberi nama dengan perguruan Jama’iyah Mahmudiyah. Pada tahun 1923 perguruan Jama’iyah Mahmudiyah telah memiliki 22 ruang belajar, 12 ruang asrama, disamping berbagai fasilitas lainnya seperti 2 buah Aula, sebuah rumah panti asuhan untuk yatim piatu, kolam renang, lapangan bola dan sebagainya. Untuk meningkatkan mutu pendidikan pada perguruan Jama’iyah Mahmudiyah, maka tenaga pengajarnya sebagian besar merupakan guru-guru yang pernah belajar ke Timur tengah seperti Mekkah, Medinah dan Mesir. Mereka semua dikirim atas biaya Sultan setelah sebelumnya diseleksi terlebih dahulu, hingga sekitar tahun 1930 siswa-siswa yang belajar di perguruan ini sekitar 2000 orang yang berasal dari berbagai macam daerah.

Selanjutnya sultan Abdul Azis kemudian mendirikan lembaga pendidikan umum bagi masyarakat Langkat yaitu sekolah HIS dan Sekolah Melayu, yang banyak memberikan materi-materi pelajaran umum. Mengenai gaji-gaji guru dan biaya perawatan bangunan semuanya ditanggung oleh pihak kesultanan Langkat, dalam hal ini dapat dikatakan bahwa segala biaya yang berkaitan dengan fasilitas-fasilitas pendidikan di Langkat ditanggung sepenuhnya oleh pemerintahan kerajaan.

Memang pada awal tahun 1900-an Pemerintahan Belanda telah mendirikan sekolah Langkatsche School  (baca: Sekolah Belanda). Namun penerimaan siswanya masih sangat terbatas, di masa itu yang diterima hanya anak-anak bangsawan dan dan anak pegawai Ambtenaar Belanda serta orang-orang kaya yang berharta, dalam bahasa pengantarnya lembaga pendidikan ini menggunakan bahasa Belanda. Selain itu didirikan juga ELS (Europese Logare School) dan untuk anak-anak keturunan Cina didirikan Holland Chinese School atau HCS.

Bagi masyarakat yang ingin memperdalam ajaran agama melalui buku-buku Islam, dalam hal ini Tuan guru Babussalam syekh Abdul Wahab Rokan telah menerbitkan dan mencetak buku-buku yang bertemakan masalah-masalah keislaman, antara lain : buku Aqidul Islam, Kitab Sifat Dua Puluh, Adab Az-zaujain dan lain-lain. karena di Babussalam pada saat itu telah ada mesin cetak, yang dibeli guna untuk menerbitkan buku-buku yang ditulis oleh Syekh Abdul Wahab sendiri. Mesin cetak tersebut sebagian besar didanai oleh sultan Musa.

Mengingat sejarah Langkat dan Madrasah Jamiyah yang merupakan tulang punggung untuk menyemarakkan nama Langkat sehingga termasyhur ke luar daerah Langkat dengan perguruan Islamnya, maka Pengurus Besar Jamaiyah merasa wajib untuk dapat kembali membangkitkan nama yang masyhur pada tahun sebelum perang itu di masa ini.

Untuk ini bermaksudlah pengurus untuk meningkatkan pendidikan yang ada tidak sampai batas tingkat Aliyah, akan tetapi ditingkatkan lagi sampai keperguruan Tinggi.Untuk ini diserahkan kepada saudara Adham Hasry untuk menjajagi kemungkinan untuk dapat ditingkatkan pendidikan, dengan menghubungi tenaga dan pejabat yang berwenang dalam melahirkan perguruan tinggi ini. Demikianlah pada awal tahu ajaran 1980, dibulatkan tekad untuk mendirikan perguruan tinggi dengan gambaran pertama dengan mendirikan Fakultas Tabiyah.

Pertimbangan untuk fakultas ini, berdasarkan banyaknya pelajar islam dari Aliyah dan PGA di Tanjung Pura dan sekitarnya yang diharapkan dapat meneruskan pelajarannya ke tingkat ini. Disamping kebanyakan tamatan Aliyah dan PGA ini tidak mampu untuk meneruskan pendidikan ke IAIN atau UISU Medan berdasarkankemampuan ekonomi yang rendah.

Pada awal tahun ajaran 1981 ini dicobalah menyiarkan maksud ini kepada masyarakat dan kemudian mendaftarkan mahasiswa pertama. Maka pada awal tahun ini terdaftar mahasiswa sejumlah 78 orang, untuk itu Pengurus besar berusaha mencari kelengkapan dan sarana lainnya agar pengajaran ini dapat terus berlangsung pada tahun ajaran tersebut Dengan bantuan dari PGAN dan Aliyah Negeri dan beberapa cerdik pandai, akhirnya pada awal tahu ajaran mulailah dilakukan Kuliah. Dan tentu ini berlangsung setelah mendapat keizinan dari Kopertais Wilayah IX Medan.

Untuk melengkapi ini, maka Pengurus Besar melakukan musyawarahnya, dan menunjuk Ketua Umum T. Poetra Azis untuk membentuk satu Yayasan Khusus akan mengelola Perguruan Tinggi ini atau Fakultas Tarbiyah ini. Dengan Penjajakan oleh Ketua Umum dibantu oleh saudara Adham Hasry, T. S. Hasan Arifin, A. Kadir Ahmadi, Muhd. Nurdin Drs dan Mukhtar Ma, maka gagasan ini mendapat dukungan dari beberapa intelektual Langkat.

Pada tanggal 28 April 1982 diadakan musyawarah dari beberapa pendukung, di rumah Ketua Umum T. Poetra Azizdi Medan

Dalam pertemuan ini dapatlah dilahirkan Pengurus Yayasan Perguruan Tinggi Jamiyah Mahmudiah, dengan susunan sebagai berikut :

Ketua Umum : Tengku Poetra Aziz

Ketua I : Prof. DR. H. Maryam Darus, SH.

Ketua II : DR. H. Abdullah Syah, MA.

Ketua III : Adham Hasry

Sekertaris Umum : Drs. H. Ahmad KS

Sekertaris I : Tengku. S. Hasan Arifin

Sekertaris II : Tengku  Mustafa Kamal Mahmud

Bendahara I : Drs. Tengku  Bahren Yahya

Bendahara II : Drs. M. Nurdin

Komisaris :

1. Tengku Djaharan

2. Tengku Jaudin Aziz

3. Tengku Isyamuddin

4. Drs. H. Bahauddin Darus

5. Tengku Adly Hamzah

6. Drs. Asy’ari Darus

7. A. Kadir Ahmadi

8. Drs. Rubbaini Rayni’

9. Muchtar MA.

Segera setelah tersusun kepengurusan Yayasan ini lalu di Notariskan pada tanggal 1 Mei 1982 pada Notaris Nurlian di Medan. Dengan adanya Yayasan, maka kelanjutan usaha dari P.B. Jamaiyah Mahmudiyah diserahkan untuk mengelola Perguruan Tinggi yang telah ada terlebih dahulu, dengan persyaratan semua usaha dan perkembangan Yayasan haruslah dilaporkan kepada PB, terutama dalam melaksanakan pembangunan yang diperlukan.

Pada Tahun 1987 atas bantuan dari Pemerintah dan Masyarakat Langkat dan kepedulian Sultan Selangor didirikan Perpustakaan dan Ruang Aula Pertemuan untuk Madarasah Jamiyah Mahmudiyah yang diresmikan oleh Bupati Langkat pada tanggal 26 Agustus 1987 bapak H.Marzuki Erman .

Pembangunan ini diprakarsai oleh :

Ketua          : Adham Hasry

Sekertaris   : Drs Musa Hadi

Bendahara :  Tengku S Hasan Arifin

Anggota     :

1.Tengku Djaharan

2. H.Ahmad Ridwan

3. Drs M.Nurdin

4. A Kadir Ahmadi

5. Muhtar M A

6. Fachrudin RY

7. Drs Karimudin Lubis

Insyaallah pada tanggal 13 Desember 2012 Madrasah Jamiyatul Mahmudiyah Melaksanakan Milad  100 tahun yang akan dilaksanakan di areal Madrasah yang sangat sederhana dengan kehadiran tokoh-tokoh kenegaraan dan para alumni yang tersebar di pelosok negeri. Dari Makthab yang sederhana ini telah melahirkan tokoh-tokoh besar Yakni Tengku Amir Hamzah seorang pelopor sumpah pemuda dan pencetus bahasa melayu sebagai bahasa nasional sekaligus pujangga angkatan baru, Adam Malik sebagai Wakil Presiden Indonesia , Selanjutnya Muhammad Imaduddin Abdulrahim tokoh Islam yang sebagai Pendiri ICMI dan Pendiri lembaga kader dakwah kampus yang dimulai dari Masjid Salman ITB dan menjadi dasar Training dalam pembentukan karakter di HMI yang menjadi guru politik dari negararawan indonesia hingga Anwar Ibrahim mantan perdana menteri Malaysia

Image

YM Tengku Pangeran Jambak

YM Tengku Pangeran Jambak Bin YM Tengku Hamzah Al Haj, Pangeran Setia Indra Negeri Langkat Pemimpin Langkat Hilir, Bersama panglima istana di Istana Kesultanan Langkat

Y.M.Tengku Pangeran Jambak bin Tengku Hamzah Al Haj Pangeran Of Langkat Hilir 1899-1917, Tanjung Pura

Makam YM Tengku Pangeran Jambak diantara Makam Keluarga Kesultanan Langkat di Halaman masjid Azizi Tanjung Pura. Masih Menjadi sebuah Misteri Apakah Makam YM Tengku Pangeran Jambak merupakan nama lain dari  YM Tengku Muhammad Yasin yang Bergelar Pangeran Setia Indra Negeri Langkat , Disalah di website the royalark.net/Indonesia/langkat3.htm Copyright© Christopher Buyers, December 2001 – March 2009 disebutkan bahwasannya YM Tengku Hamzah Al Haj Memiliki 4 Anak Laki-laki dan 3 Anak Perempuan salah satunya adalah Y.M. Tengku Jambak bin Tengku Hamzah al-Haj. Pangeran of Langkat Hilir 1899-1917, sementara di website yang sama 4dw.net/royalark/Indonesia/langkat3.htm Copyright© Christopher Buyers, December 2001 – November 2007 Disebutkan hanya memiliki 3 anak Laki-laki tanpa menyebutkan YM Tengku Pangeran Jambak. Ketika Melakukan penelusuran di makam raja-raja kesultanan langkat dinisan tertulis Tengku Pangeran Jambak Muhammad Yasin lahir 1882 wafat pada tahun 1957, jika dilihat dari website tersebut dengan makam yang ada menjadi sebuah pertanyaan Dimana Makam Tengku Pangeran jambak sejatinya karena dari tahun dinissan jelas makam yang ada adalah makam YM Tengku Pangeran Muhammad yasin yang menjadi luhak langkat hilir pada tahun setelah YM Tengku Pangeran Jambak Mangkat 1917-1930 dan dilanjutkan menjadi luhak langkat hulu pada tahun 1930-1934

Makam YM Tengku Hamzah Al Haj

Makam YM  Tengku Hamzah Al Haj Bin Tengku Musa , Digelar Pangeran Tanjung dan dinobatkan Menjadi Pangeran Indra Diraja dimakamkam di wilayah pemukiman penduduk di bantaran sungai Wampoe bersama pengikutnya, Yang mana Merupakan Ayah dari YM Tengku Pangeran Adil ( Kepala Luhak Langkat Hulu  , Dan YM Tengku Pangeran Jambak ( kepala Luhak Lagkat Hilir ), YM Tengku Pangeran Muhammad Yasin ( Kepala Luhak Langkat Hilir + Hulu pada tahun 1912), YM Merupakan Kakek Dari Pahlawan Nasional Tengku Amir Hamzah ( Nama Hamzah diberikan ayahnya dari nama Kakek Beliau YM Tengku Hamzah Al Haj)

Makam  Para Pengikut dan Punggawa yang Turut Serta bersama  YM  Tengku Hamzah Al Haj Bin Tengku Musa , Digelar Pangeran Tanjung ( Pangeran Indra Diraja  Langkat ), Bersama  Makam Beliau disandingkan Makam Tengku Soran Bin Tengku Muhammad Yassin Al Haj ( Pangeran Indra Setia Negeri Langkat ), dimana Tengku Soran Anak dari YM Tengku Mohmmad Yassin dan pernah menjabat sebagai assisten wedana di Kerapatan Binjai

Istana Kesultanan Langkat

Istana Kesultanan Langkat Darussalam Istana Baru yang didirikan oleh Sultan Langkat  YM Tengku Abdul Aziz

Istana Kesultanan Langkat Darul aman Istana Lama yang didirikan oleh Sultan Langkat YAM  Tengku Musa Al Haj

 Istana Kesultanan Langkat di lihat dari bantaran sungai Wampoe Tanjung Poera

Reruntuhan Istana

 Salah Satu bentuk Peninggalan yang tersisa dari Kejayaan Masa Silam Berupa  Penyanggah Tiang Istana yang tersisa akibat revolusi Sosial Pada tahun 1946. Dimana bangunan Tapak peninggalan Kesultanan Langkat masih dapat di lihat dari beberapa puing-puingnya , walaupun ada upaya menyembunyikannya namun , sejarah tak pernah berhenti untuk berbicara.

Rumah Persinggahan yang menjadi tempat Sultan Langkat Menjamu Tamu yang berkunjung Ke wilayah Langkat , yang masih berdiri Kokoh dan masih dapat di lihat  di areal Tanjung pura, dimana bangunan ini memiliki areal yang sangat luas .

Gapura Istana Kesultanan Langkat yang berada di dua Sisi Barat  yang masih tersisa yang menjadi bukti kejayaan Kesultanan Langkat terlihat jelas dilintasan jalan Raya menuju ke Medan

Gapura Istana Kesultanan Langkat yang berada di dua Sisi Timur  yang masih tersisa yang menjadi bukti kejayaan Kesultanan Langkat terlihat jelas dilintasan jalan Raya menuju ke Medan

Perjalanan menuai arti

Semenanjung Malaka jauh di tengah

Terhalang Dibalik si Pulau Sembilan

Tergetar hati  mengurai sekelumit  Kisah

Melangkah diuntai hamparan  insan

Gerak langkah di antara pusaran hari yang berputar searah jarum jam menjejakkan langkah di tanah Langkat di gerbang sebuah kota tertera tulisan Selamat datang di kota Tanjung Pura yang dilambangkan sebuah Gapura berbentuk keris dan tepak sirih. Menyisiri Kota Lama yang penuh sejarah membawa sebuah langkah terhenti di sebuah bangunan Bundar tepat di depan Gerbang Kota Tanjung Pura, Menilik bangunan lama peninggalan zaman belanda yang dijadikan museum daerah kabupaten langkat pada sekarang dimana pada mulanya merupakan kantor keresidenan masa itu

Di Bangunan Bundar yang didalamnya memiliki Beberapa ruang dengan kubah berbentuk Setengah Lingkaran           ( sekilas mirip Seperti Kubah masjid pada umumnya)  disisi kubah dihiasi  kaca  yang berjejer melingkar   yang didesain sebagai pencahayaan didalam ruangan dan ditengah kubah dipajang  lampu gantung sebagai lampu utama ruangan  . Di Areal Dinding Bangunan yang kokoh ini Dipajang  beberapa foto-foto sejarah kejayaan masa lampau dan miniatur bangunan istana sebagai reflika dari singgasana  kesultanan   dengan ornamen yang melengkapinya. Bangunan yang dengan Arsitektur yang indah dimana di sudut kiri dan kanan terdiri atas pintu  dan ruangan sebagai pintu alternatif menuju ruangan induk yang melingkari bangunan bundar ini dengan teras disekitarannya. Dibeberapa Sisi Ruangan khusus yang menampilkan foto dan miniatur Tentang Perjuangan Tengku Amir Hamzah , dan Sejarahnya.  Di sudut Ruangan lainnya di sajikan Miniatur Bangunan rumah Suluk dari Tariqah Nasaqabandiyah dengan menampilkan poto-poto pemimpin tariqah dari Syech Abdul wahab Rokan hingga Pemimpin yang sekarang.

Perjalanan Menyisir  Kota Lama Tanjung Pura  Berhenti sejenak menikmati Keteduhan Pepohonan rindang di depan Bangunan Bundar tepatnya di pinggir jalan Lintas  Kota Tanjung Pura, dimana puluhan pedagang menyajikan makanan minuman di areal trotoar jalan  yang  dibentangkan tikar lesehan dengan sajian utama berupa air Kelapa Muda , Melepas dahaga dan menikmati keteduhan pepohonan yang tertata rapi di kiri kanan jalan.  Sambil menikmati Minuman Kelapa Muda yang di sajikan dengan tambahan pilihan rasa gula aren lamat-lamat terdengar  perbincangan antara beberapa masyarakat disekitar yang menggunakan   logat dan penggunaan bahasa melayu yang masih terpelihara menjadikan kota Tanjung pura seakan tak lekang di zaman. Pedagang Di lintasan Jalan Tanjung pura ini memiliki sebuah budaya  jual beli yang khas dan merupakaan sebuah akar budaya masyarakat melayu  dimana bila  dalam melakukan jual belinya di sebutkan akadnya antara penjual terhadap pembeli .

Kumandang Azan terdengar dari Menara Sebuah Masjid , yang dilantunkan oleh  Muaazin  dengan lantunan azan yang sangat indah membawa langkah menuju Masjid Yang tak jauh dari Museum Daerah, dengan bergegas para jemaah melangkah satu persatu mengambil wudhu di sisi bangunan megah peninggalan sejarah yang dibangun oleh Kesultanan Langkat  Sultan Abdul Aziz yang selesai  pembangunannya pada tahun 1901  dimana diberikan nama Masjid Azizi . Masjid yang membuat decak kagum para penghujung yang datang atas keindahan ornamen bangunan yang menggabungkan unsur  timur tengah , eropa dan China  terrangkum di jadikan satu dalam masjid ini. Di sisi luar Masjid Azizi Bersemayam makam para Pewaris tahta Kesultanan Langkat yang di pagar dan dihiasi Kubah diatasnya, dan di areal lainnya bersemayam beberapa Para punggawa dan panglima kesultanan yang menjalankan pemerintahan  di wilayah Langkat Hulu Tengku Pangeran Adil, Langkat Hilir Tengku Pangeran Jambak selanjutnya Digantikan oleh Tengku Mohmmmad Yasin ( Makam YM Tengku Pangeran Jambak menjadi sebuah misteri dikarenakan ada yang berpendapat baahwasannya YM Tuanku wafat pada tahun  pada usia 37 Tahun dan dilanjutkan kepemimpinannya oleh YM Tengku Muhammad Yasin wafat pada tahun 1882-1957  Di batu Nisan yang terpahat di pusara Tuanku Tertera Tengku Jambak Muhammad Yasin  Pangeran Setia Indra Bin Tengku Hamzah Al Haj Pangeran Indra Diraja Ke II Langkat ), Dan Wilayah Teluk aru  Tenggku Jaffar diantara  makam tersebut bersemayam Makam Tengku Amir Hamzah Pahlawan nasional Yang terkenal dengan Pujangga Baru dengan sair Rindu yang wafat akibat sebuah kekejaman dari sebuah Revolusi sosial tahun 1946.

Mencoba Ingin Mencari Tahu sebuah Kisah yang Menyelimuti sebuah mata rantai sejarah Penyelusuran Ke Makam YM Tengku Pangeran Jambak, ada beberapa penafsiran yang timbul dimana  dalam sebuah website the royal ark of langkat copy right by chrishtoper buyers  edisi Desember 2001- march 2009 disebutkan bahwasannya YM Tengku Pangeran Jambak Memimpin Luhak Langkat hilir pada tahun 1899-1917 . Dicatatkan yakni YM Tengku Pangeran Tanjung memiliki 4 anak lak-laki dan 4 Anak Perempuan yang ketiganya  menjabat sebagai kepala luhak  yaitu Tengku Pangeran Adil , Tengku Pangeran Jambak , Tengku Pangeran Muhammad Yasin Selanjutnya Di Website Yang sama dengan edisi Yang Berbeda yaitu edisi Desember 2001 – November 2007 Dimana Anak Laki-laki dari Tengku Pangeran Tanjung Berjumlah Tiga Orang dengan tidak mencantumkan nama YM Tengku Pangeran Jambak, dan tidak menjelasakan akan masa kepemimpinan Beliau , sementara di Literatur resmi dari Kabupaten Langkat dengan Jelas Menyatakan beliau adalah Salah Satu Pemimpin Luhak Langkat hilir yang berpusat di tanjung pura.

Sebuah Pertanyaan Yang muncul Adakah YM Tengku Pangeran Jambak  ( menurut Website langkat  YM Tengku Pangeran Jambak di sebut Juga namanya dengan YM Tengku Pangeran Akhmad ) Nyata Adanya ataukah hanya sebuah panggilan kecil atas YM Tengku Pangeran Muhammad Yasin , dari beberapa penelusuran di beberapa masyarakat melayu beranggapan  menyatakan bahwasannya pangeran jambak adalah juga pangeran Mohamad Yasin. Berpegangan dengan dua sumber yang di peroleh , perjalanan membawa sebuah pencarian diantara beberapa makam dari Keturunan YM Tengku Muhammad Yasin, Diareal Pelataran Halaman Makam masjid Azizi Di makamkan Keturunan dari Beliau yakni  Tengku Burhan wafat pada tahun 2000 , disebelahnya Berdampingan Tengku Zohoriah yang wafat pada tahun 2007 , di sebelah makam YM Pangeran jambak mohammad Yasin yang di gelar pangeran setia indra Langkat ( dimakamnya Tertulis)  Yakni Tengku zaitun yang meninggal pada tahun 1993. Pencarian atas jejak makam Keturunan Dari Tengku Muhammad Yasin menyeberangi Kota Tanjung Pura berlabuh di Masjid Raya Stabat yang di bangun pada tahun 1904  yang menunjukkan sebuah bangunan yang memiliki arsitektur keindahan yang megah dengan pilihan pilar-pilar yang berjejer di teras masjid dan di dalam ruangan Utama Berdiri sebuah mimbar yang masih terawat yang terbuat dari kayu pilihan yang mana tercermin dari pintu-pintu masuk yang berengselkan besi padu dengan bahan kayu pilihan hampir di temui di masjid-masjid di Binjai dan  tanjung pura dan beberpa masjid dari kesultanan deli. Di Belakang Masjid bermukim sebuah Rumah yang merupakan bangunan Bersejarah yang masih terawat dengan cat berwarna kuning yang merupakan rumah almarhum tengku Sulung yang dimakamkan di areal perkuburan di belakang masjid yang diantaranya adalah makam Salah satu keturunan YM Muhamad Yassin yaitu Makam Tengku Colan yang dimakamkan di areal perkuburan masjid Raya Stabat .

Diantara Perkuburan yang ada , beberapa masyarakat Pada Umumnya mungkin tidak pernah tahu di bantaran sungai lama tepatnya di simpang tiga jalan tanjung dibelakang masjid azizi yang dibangun  benteng penahan air sungai wampu masyarakat menyebutnya lorong makam bersemayam Makam YM Tengku Pangeran Tanjung  sebagai cikal bakal nama Kota Tanjung Pura lengkapnya YM Hamzah AlHaj Pangeran Indra Diraja Langkat, yang mana dilingkupi perkampungan masyarakat bila air sungai meluap seluruh wilayah tergenang air hingga meninggalkan  lumpur yang menggenang. Dikomplek Pemakaman ini Tidak seindah dan senyaman makam-makam yang berada di pelataran masjid Azizi yang terawat dan terjaga, Komplek Pemakaman dibantaran sungai ini secara pasti dilingkupi areal pagar batu setengah meter  yang terdiri Makam Tengku Pangeran Tanjung , disisi Kiri sebuah Makam Kecil yang berukiran arab Melayu , Selanjutnya disebelah Kanan Makam Tengku Soran yang merupakan anak dari Tengku Mohammad Yasin ( namun di nissannya tidak mencantumkan tengku pangeran jambak , berbeda dengan di makam Tengku Burhan dan Tengku Zohariah yang menyebutkan Bin Tengku Mohamad yasin Tengku Pangeran Jambak dan disandingkan dengan gelar Pangeran Setia Indra Negeri Langkat , di nissan Alm Tengku soran Terukir Tengku Mohhamad Yasin Pangeran Setia Pahlawan  Negeri Langkat ) wafat pada tahun…..

Dipelataran Makam Tepat diseberangnya sekitar 10 meter persegi dilingkup tembok setengah kaki orang dewasa bersemayam para punggawa dan pengikut setia Yang MuLia Pangeran Indra Diraja Langkat dan dibangunkan oleh generasi dari keturunannya sebuah Surau Panggung Kecil  yang terbuat dari Bahan Kayu  masih berdiri kokoh dimana masyarakat melaksanakan ibadah sholat dan mengaji dengan sebuah sumur yang dijadikan sumber mata air Bersih utama bagi masyarakat. Di perkampungan yang pernah ada sebuah sejarah dan kisah akan Sebuah Pangeran yang terkubur dalam lumpur akan keteguhan jiwa dan prinsip yang di pertahankan hingga akhir hayatnya hingga dimakamkan di perkampungan masyarakat jauh dari kemegahan seorang Pangeran . Diareal ini Pernah ada sebuah Istana Kecil yang didiami Yang Mulia dalam membesarkan Anak-Anaknya yang bermain di pelataran sungai dan mengaji menimba ilmu pengetahuan agama  hal ini dapat dilihat dari areal Landai di belakang surau dan suatu  hal yang menarik berbeda dari bentuk surau pada umumnya di mana dari  bentuk surau yang dibangun dengan  kubah yang tinggi  sekilas memiliki bentuk yang sama dengan menara kubah diatas istana kesultanan langkat .

Dari beberapa dokumentasi yang di sajikan ada hal yang sangat menarik ketika salah satu dokumentasi yang mengambil hasil pemotretan yang diambil dari bantaran sungai Wampu terlihat jelas ketika diambil pembesaran gambar bahwa istana Kesultanan Langkat tepat Berada di bantaran sungai pada bahagian Belakang istananya di kelilingi tembok, di sekitarannya dengan rumah panggung yang terbuat dari kayu bersusun memajang diareal kiri dan kanan istana yang di huni oleh keluarga istana pada masa itu ( secara  Demografi Hampir dibeberapa  Daerah Kerajaan pada masa dahulu berada di bantaran sungai dikarenakan Alat transportasi utama baik  perdagangan maupun kerjasama antar wilayah  pada masa lalu menggunakan transportasi Air melalui  Sungai higga ke laut lepas, dimana untuk wilayah dipesisir timur pulau sumatera adalah semenanjung Malaka yang merupakan Laut yang memiliki lintasan perdagangan yang sangat Ramai sejak dahulu hingga masa sekarang.)

Di Atas areal yang meninggi dari kejahuan menatap jauh ke depan ke hamparan pemukiman tempat bersemayam YM Tuanku Pangeran Indra Diraja  Hamzah Al Haj bin Almarham Sultan Musa, Dihamparan Pepohononan yang rindang yang berjejer di bantaran sungai seolah membentuk sebuah sosok Naga yang berbaris di pandu oleh seekor burung yang tepat berada didepan, Bentuk dari gambaran tersebut  merupakan salah satu  dari pohon Jati yang berdiri tegak lurus yang dihujung dahan dan rantingnya membentuk sebuah panorama  yang terabadikan dalam sebuah lensa dari sudut kamera  , Menara surau yang terlihat di balik rerimbunan pepohonan menjadikan keindahan tersendiri.  Pohon jati yang mengarak langit seakan  memberikan arah  akan  sebuah  kisah seorang Pangeran Indra Diraja setia berbakti untuk negeri  dan bersemayam di tepian bantaran sungai terkubur bersama sebuah keteguhan jiwa dalam menmegang prinsip, Perjuangan dan Bakti telah menjadi ujian dan terbukti  dilanjutkan oleh generasi –generasi penerusnya……

dARI RAMBoeTAn , doeDOl, Udang Galah, Hingga Mie ReBUS

Kenangan Masa Kecil membawa kembali ke tanah Yang memiliki sejarah panjang dalam perkembangan  dan kejayaan masa Kesultanan Langkat., kembali menyisiri wilayah Kecamatan Tanjung Pura . Perjalanan Dari Kota  Medan yang menempuh jarak  tempuh 1 jam melintasi kota Binjai yang terkenal dengan  Buah Rambutan yang segar dengan ukuran yang besar dan berwarna merah dijumpai di pelataran jalan dijajakan oleh penjual Buah rambutan dengan tenda Tenda Merah di sepanjang Jalan yang dijajakan dengan harga per ikat sekitar 15- 20 Ribuan tergantung Besar dan kecilnya. Tekstur Buah Rambutan masyarakat menyebutnya Rambutan Bhahrang , memiliki Kulit yang berwarna merah dengan buah yang manis dan antara tekstur buah dan biji  ketika di kupas tidak menyatu dan mengandung kadar air yang manis. Berbeda dengan buah Rambutan yang dikenal di jakarta di sebut Rambutan Rapeah dengan kulit yang tipis , berwarna hijau dan bentuknya yang kecil denfan rasa yang masam. Untuk Rambutan Binjai lebih sering Masyarakat di luar sumatera menyebutnya Rambutan Aceh.. Menilik Kota Binjai Yang menjadi Kota Administratif yang di pimpin Oleh Walikota memiliki banyak beberapa bangunan bersejarah yang masih berfungsi dan di gunakan sebagai fasilitas umum hingga sekarang diantaranya ketika memasuki kota Binjai dapat dilalui dengan kereta api dimana merupakan salah satu stasiun peninggalan bersejarah pada masa dahulu yang melintasi hingga sampai ke tanah  rencong Atjeh sebagai salah satu transportasi pengangkut hasil bumi ( Lintasan Kereta api masih menyisakan sejarah di rel-rel dan stasion yang tidak berfungsi), tak jauh dari stasion kertea api masih berdiri sebuah Post Office yang memiliki sejarah masa lampau sebagai tempat masyarakat melakukan transaksi surat menyurat, dan tak jauh dari kantor post masih berdiri dengan kokoh Rumah sakit Bangkatan yang memiliki sejarah panjang sebagi rumah sakit yang digunakan masyarakat  yang merupakan rumah sakit perkebunan . Bentuk bangunan yang dijadikan sebagai Kantor Urusan Agama Binjai yang merupakan berasal dari kantor residence zaman kolonial yang berada dipusat kota masih terlihat dengan bentuk aslinya dengan kubah setengah bundar. Pada Masa Kesultanan Langkat Sultan Musa mendirikan sebuah Masjid di kota Binjai yang merupakan masjid pertama Yang dibangun oleh Sultan Musa dan telah mengalami renovasi.

Bangunan asli masih tetap dipelihara dengan ornamen yang asri Dimana setiap jendela memiliki hiasan timur tengah dengan Tiang-tiang yang kokoh dan Pintu yang terbuat dari Kayu yang kuat dan berat sehingga untuk engselnya harus terbuat dari besi padu di sisi atas dan bawahnya guna meyangga Pintu yang berada di setiap sudutnya dan di dindingnya terukir prasasti berbahasa arab Melayu tentang tarikh pendirian masjid Raya Binjai yang tepat berada di pasar kota Binjai di belakang areal pertokoan. Diwilayah Binjai Ke arah Bahorok  berbatas dengan Kecamatan selesai di sekitar Bhahrang  yang di diami warga keturunan Tioghoa disudut kota berdiri sebuah klenteng china dari aliran khong Huchu yang menjadi tempat peribadatan suku tioghoa yang telah turun temurun mendiamai wilayah tersebut sekian lama , dimana terlihat rumah-rumah yang berada dilokasi bhahrang berbaur dengan masyarakat setempat, disekitar jalan menuju kota bhahrang yang di lintasi dua alur anak sungai yang diatasnya berdiri  2 jembatan lama peninggalan zaman dahulu dan beberapa rumah panggung yang menjadi saksi sejarah atas kejayaan masa silam . Perjalanan berlanjut dari kota Rambutan bergerak maju ke arah timur melintasi jalan raya melintasi arah ke tanjung Pura , banyak hal menarik yang di temui di sekitarnya melintasi areal perkebunan  Tebu dan setiba di wilayah Stabat ( Ibukota Kabupaten Langkat ) yang merupakan salah  kota baru yang dibuka menjadi Ibukota dimana sebelumnya merupakan areal perkebunan tebu hal ini masih dapat dilihat dari areal yang tersisa  di wilayah sebahagian Kota stabat. Di sekitar Pusat kota  dan pinggiran Stabat berdiri rumah-rumah Afdeling Kebun  yang masih terlihat tidak terawat meninggalkan sisa-sisa Sejarah masa lampau. Dipusat Kota stabat Masih berdiri Pabrik pengolahan Tebu Dari PTP II Kuala Madu dan bangunan Lama yang dijadikan salah satu kantor organisasi buruh kebun. DiPinggiran sungai Stabat ( Aliran Sungai Wampu ) yang memiliki Alur yang sangat Lebar sekitar hampir lebar 20 m berdiri sebuah Masjid Raya Stabat yang dibangun Oleh Sultan Musa dan di halaman belakang masjid berdiri Sebuah Rumah Melayu yang dimana sebagai cagar budaya mendapatkan perawatan dan pembiayaan oleh Bupati Langkat sebagai salah satu kepengurusan MAMBI Langkat dimana rumah ini Merupakan rumah  kediaman Alm Tengku Sulung . ( beliau merupakan Salah satu Tentara di zaman Kemerdekaan yang di segani diwilayah  Stabat ) dan di areal Masjid bersemayam makam yang di tempati oleh keturunan para Bangsawan Melayu dan beberapa  masyarakat umum. Perjalanan dari Kota Stabat menuju kota tanjung pura melintasi kecamatan hinai dimana disekitaranya berdiri rumah-rumah panggung adat melayu yang asri dengan ornamen dari kayu yang dibalur dengan ukiran yang memberikan kesan asri dengan warna kayu yang hitam kecoklatan dihias dengan jendela yang luas dimana ukuran jendela seperti ukuran pintu pada umumnya dengan dua daun jendela kiri dan kanan diantara anak tangga menuju ke teras  berhiaskan ukiran kayu.Sungguh Pemandangan yang sangat indah dan membawa kenangan kemasa silam. Sungguh Menarik dang sebuah kebanggan tersendiri  dimana masyarakat melayu  masih merawat dan melestarikan  warisan budaya walaupun dibeberapa sudut kota berdiri  bangunan- bangunan bertingkat dan beton bertulang , namun rumah-rumah panggung masyarakat melayu memberikan warna tersendiri akan akar budaya sebuah bangsa. Suatu yang sangat Menarik di wilayah kecamatan Hinai tepatnya di desa Lenggang berbatasan dengan desa Tanjung Mulia tersisa Sebuah Benteng tepatnya Menara peninggalan zaman kolonial yang masih berdiri tegak namun dari kasat mata seperti bekas terbakar dang berwarna kusam dan di depannya bersemayam kuburan umum yang dihiasi pohon-pohon rindang. Sampai di gerbang tanjung pura nuansa melayu sangat terasa dengan rumah-rumah panggung yang bejejer di pinggiran jalan Raya Tanjung Pura di kiri kanan memiliki areal Rawa-rawa di batasi oleh Parit yang Lebar guna menampung Luapan air Sungai , jika dilihat dari kontur kota  tanjung pura yang landai mengakibatkan rawan terhadap banjir dikarenakan aliran sungai yang terkadang meluap dari hulu  , dan hal ini telah diupayakan dengan pembuatan benteng di sepanjang alur  sungai agar tidak menggenangi ke kota tanjung pura. Dengan Jumlah Desa dan Kelurahan yang berjumlah 19 yang tersebar hingga kehujung laut lepas dimana transportasi air menggunakan Sampan dan Perahu menjadi pilihan utama bagi masyarakat yang bertransaksi dagang di Desa Kwala Serapuh yang merupakan Desa yang berada terhujung menuju Selat Malaka, dimana  mata pencaharian masyarakat pada umumnya menjadi Nelayan berlayar menyeberangi lautan mencari ikan.  Perjalanan ke kwala Serapuh di tempuh dengan Perahu Tongkak  berkisar 2 jam   menyusuri sungai dan akhirnya  dihilir sungai bertemu laut lepas diantara hutan manggrove ( Bakau )  para perahu nelayan menjaring ikan. Terlihat  berdiri rumah-rumah penduduk berada diatas sungai sekitar 3 meter diatas permukaan air  yang disanggah dengan kayu-kayu laut, angin laut yang kencang menemani setiap perjalanan deru perahu nelayan dan ombak yang bermain dipinggir dinding kapal tongkak. Di Desa Kwala Serapuh secara umum 30 persen areal lokasinya terbagi atas daratan dimana telah dimukimi oleh masyarakat Melayu  dan dapat dilintasi  kendaraan roda dua  dan roda dan empat yang ditempuh dari kota Tanjung Pura , untuk penerangan  telah dialiri arus listrik oleh Perusahaan Listrik Negara dimana berdiri tiang-tiang beton yang diatsanya berseliweran kabel-kabel tegangan tinggi , namun jika kondisi air Pasang besar Wilayah daratan  di desa  kwala serapuh tergenang Air laut, beberapa tahun silam Kwala Serapuh merupakan penghasil Udang terbesar dimana hasil panen udang di ekspor ke luar negeri ( Seperti Udang Galah,Udang Kelong hingga Lobster) di wilayah  Paluh-paluh sungai tersebar tambak-tambak udang yang di kelola oleh Pengusaha-pengusaha dari Keturunan Tioghoa, jika perjalanan malam melintasi Desa Kwala Serapuh seperti berada di kota metropolitan di hiasi lampu-lampu setiap sudut tambak. Tahun berganti Keemasan Udang mulai meredup, tambak-tambak yang bergeliat dengan deru mesin pemompa air dan lampu-lampu yang menghiasi areal tambak laksana bangunan tua dan tidak terawat dibiarkan terbengkalai dikarenakan harga udang yang tidak sebanding dengan biaya operasional Produksi. Namun Kwala Serapuh Tetap Tidak Berubah dari kemiskinannya  dengan Masyarakat yang masih menggeluti mata pencahariannya melaut mencari ikan, Secara Ekonomis dengan pengelolaan tambak-tambak tersebut tidak memberikan pengaruh secara  langsung terhadap masyarakat ,  setempat terkadang sering menimbulkan konflik antar pengusaha dan masyarakat atas penguasaan lahan dimana kontribusi dari pengusaha yang melakukan pembuatan tambak mengakibatkan luapan air pasang akhirnya tertahan selanjutnya menggenangi wilayah Daratan ,hal ini memjadikan seolah-olah pengusaha lepas tangan dan tidak peduli akan masalah yang timbul ditambah lagi sering terjadi pengrusakan serta pencurian  ditambak-tambak tersebut yang dilakukan oleh oknum masyarakat setempat. Kwala Serapuh Kini .. bukan Penghasil Udang terbesar lagi , Menyikapi Produksi dan Permasalahan yang timbul atas Pengelolaan Tambak di alih fungsikan menjadi Kebun-kebun Sawit. Deru mesin Ekskavator terus bekerja menimbun tambak-tambak Udang yang terbengkalai, Investor mulai bergeliat mencari areal yang akan di perjual belikan untuk selanjutnya dijadikan kebun-kebun sawit. Sejumlah Manggrove sebagai tempat Nelayan mencari udang dan sebagai penahan abrasi Pantai kinipun sirna dijadikan lahan-lahan sawit yang sangat menjajikan tanpa memperdulikan  alam. Udang Galah yang terkenal Besar dan berprotein tinggi sangat menjadi incaran bagi penikmat kuliner yang berasal dari makanan laut lebih tepatnya Sea food, tak ayal restoran yang menjajakan makanan laut marak muncul dengan menyajikan makanan laut yang memanjakan lidah para peminatnya dan untuk melengkapi hal tersebut di sudut kota tanjung pura salah satu  restoran menyajikan panganan seafood  lokasinya tepatnya di pinggir sungai.Yang tak kalah menarik adalah merupakan salah satu Rumah Makan RESTU  yang menjadi tempat  persinggahan para pengunjung yang melintasi kota tanjung pura dengan sajian Mie Rebus seafood Udang, berada di depan Pertokoan dan areal bank di seputaran kot Tanjung Pura . Warung makan ini hingga sekarang masih tetap ramai di kunjungi walaupun sudah hampir puluhan tahun berdiri dan menyajikan menu yang tidak jauh berbedaakan cita rasa yang lezat .Mie Rebus yang disajikan menghantarkan malam yang dingin diiringi lantunan irama melayu dari seorang biduan yang melantunkan lagu sri Langkat diiringi musik pak pung yang terdengar lamat-lamat dari sudut rumah penduduk. Ditemani kenangan akan masa silam , diantara  hiasan meja bulat yang terbuat dari bahan batu marmer putih dengan kursi kayu yang berbentuk setengah lingkaran dengan ukiran kayu di pegangan tangannya dan arsitektur bangunan rumah yang masih terjaga dari  bentuk aslinya menjadikan sebuah Warisan Budaya sebuah Peradaban dan kemajuan sebuah negeri. Menemani malam tak lengkap rasanya bila tak menyeruput secangkir kopi sambil  berkombur kalau orang melayu  menyebutnya, lebih tepatnya Nogkrong di warung kopi sambil membahas hal terkini baik dari sumber media elektronik , permasalahan di dunia Politik, Artis hingga masalah tentang sosial lainnya. Budaya Ngopi tidak kalah serunya baik di tingkatan elite Politik maupun Selebritis yang dilakukan di cafe-cafe terkenal dengan menu kopi yang terkadang memiliki brand internasional , dibandingkan dengan budaya masyarakat awam diwarung-warung yang menyajikan kopi yang tentu tak kalah nikmatnya dan yang pasti  tak kalah seru perdebatannya melebihi para politisi di senayan. Warung Kopi di jalan Tanjung Pura di dekat persimpangan Arah menuju Ke besilam bagi masyarakat awam tidak asing lagi dengan keberadaan warung ini , di areal pinggir jalan para pengunjung silih berganti menyambangi warung kopi yang sederhana ini , dengan  kopi yang memiliki citarasa  yang berbeda menemani malam  , tak jarang para penghujung singgah datang yang berasal dari tujuan medan maupun aceh singgah di warung kopi pak cik Agam ( Pemilik warung ini orang  dari Aceh ) , selain hidangan kopi di warung ini lengkap dengan aneka makanan dan kue-kue kering  termasuk  kue timpan khas aceh serta aneka makanan lainnya maupun minuman ringan yang dijajakan diwarung ini. Tak Jauh dari warung pakcik Agam Berderet puluhan Penjual dodol di sepanjang jalan hingga sampai berbatasan dengan  kecamatan gebang hampir sekitar Puluhan pedagang menjajakan Panganan khas dodol Tanjung Pura, dimana dodol tanjung pura dibungkus dengan daun upi dan ada beberapa yang di bungkus dengan plastik tergantung pilihan rasa ada durian, Pandan, Kacang , dan Nanas. Dodol Tanjung Pura sudah terkenal sejak dahulu dan sering menjadi buah tangan yang dibawa buat sanak saudara.Harga dari  dodol yang dijajakan perbungkus yang 1 kilo Gramnya berkisaran anatara Rp. 18.000,( delapan Belasan ribu  tergantung Rasa) , dan untuk yang dibungkus daun (upi) pinang  memiliki harga yang agak sedikit lebih mahal dan memiliki kualitas yang lebih tahan lama, Bentuk daun Pinang  yang telah mengering berwarna putih menjadi pembungkus dodol yang dibentuk bulat memanjang di hujung atas dan bawahnya diikat dengan tali rapiah terkadang pilihan warnanya umumnya berwarna merah Muda, sebagai hiasan di pajang didepan warung  miniatur dari bentuk dodol yang dibalut daun upi dengan kreasi  berukuran 1 meter. Penjual dodol yang berada di tanjung pura mencoba bangkit menghidupkan perekonomian di kota lama dimana tingkat laju perekonomian maupun infrastruktur relatif lambat dibandingkan beberapa kota yang baru berdiri di kabupaten langkat. Beberapa inovasi perlu di gerakkan dalam peningkatan roda perekonomian masyarakat dimana bentuk dan pola serta sistem perdagangan makanan yang layak untuk di eksport dengan memberikan citarasa dan kualitas yang mampu mendorong minat para pembeli dan  layanan purna jual di beberapa etalase yang ada di ruang-ruang publik tentunya dengan pemasaran di setiap pusat  perdagangan startegis  yang di kombinasaikan dengan wisata budaya dan kuliner menjadi ciri khas Kota Tanjung Pura. Menjadikan Tanjung Pura sebagai salah satu Kota Wisata Budaya dan Religi  sangat layak untuk digagas , dan memungkinkan sebagai salah satu kota Pendidikan agama, dimana dari kota tanjung pura pernah ada ulama besar yang membawa sebuah ajaran yang telah dijadikan panutan para murid dan pengikut tarikah nasabandaqiyah, setidaknya Menjadikan sebuah pusat Pendidikan Kajian agama adalah layak dimiliki oleh Kota Tanjung Pura. Diantara situs-situs budaya di kota tanjung pura bertebaran di sepanjang Lintasan Wilayah baik berupa Museum daerah, Masjid Azizi, makam raja-raja Langkat,  Makam Penyair  RINDU  Tengku Amir Hamzah,bangunan-bangunan kota tua yang masih tersisa dan yang tak kalah menarik adalah berziarah ke makam Syech Abdul Wahab Rokan, dan yang pasti sangat mengasikkan  menyisiri Sungai hingga Ke Hilir  sambil menikmati pemandangan hutan manggove dan memanjakan lidah dengan Udang galah di hujung pertemuan laut serta menyaksikan pemandangan matahari terbenam di ufuk barat sungguh keindahan yang yang sangat tidak terlupakan. Dari Perjalanan menyusuri Garis Pantai Timur Sumatera ( Pada zaman dahulu wilayah ini disebut sebagai Sumatera Timur sebelum digabung menjadi sumatera Utara pada zaman pemerintahan Indonesia hingga sekarang ) dari Kota rambutan ibukota Binjai sampai di batas akhir Kota Pangakalan Berandan ( sekarang  menjadi Wilayah Kecamatan Babalan) Sepanjang Jalan Protokol atau tepatnya jalan lintas sumatera  masyarakat menyebutnya, masih tertera dan di hampir di setiap papan nama sebagai penunjuk dan penamaan jalan dilintasan tersebut tertera penyebutan nama  Jalan Tanjung Pura  untuk sebagai tanda lokasi  menyebutkan Km dan Desa atau Kelurahan tertentu.Berbeda Untuk Penamaan Jalan Anatara Pangkalan Brandan hingga sampai perabatasan aceh Tamiang menggunakan nama Jalan Besitang dengan menyebutkan Km dan lokasi desa atau kelurahan tertentu. Dari hal ini diatas menarik untuk mencari dan mengkaji secara runtutan dari sebuah sejarah atas penamaan sebuah jalan pada masa dahulu , bisa diartikan Pusat kekuasaan dari kesultanan berada terbentang dari binjai hingga sampai ke pangkalan berandan dimana pusat pemerintahan pada masa kesultanan berkuasa berada di 3 pusat kota pemerintahan utama ( pada masa kesultanan di sebut Luhak )  yaitu Binjai  sebagai pusat pemerintahan langkat hulu, Tanjung Pura sebagai pusat pemerintahan langkat hilir  dan Pangkalan Berandan sebagai pusat pemerintahan Teluk Haru, selanjutnya dari tata kelola pemerintahan masa itu memiliki kewenangan atas legitimasi kedatukan dimasing-masing wilayah sebagai hak ulayat pemilik secara adat atas wilayah bermukimnya masyarakat setempat dimana melingkupi Kedatukan Bahorok, Binge , hingga kedatukan Besitang  yang melingkupi wilayah Salah Haji ( salah satu desa di wilayah Kecamatan Pemekaran yang dahulu merupakan bahagian kecamatan besitang sekarang berada di kecamatan Pematang Jaya ).

Aru Dahulu Langkat Kemudian

Kerusakan Benteng Putri Hijau di Sumatera Utara belakangan ini membawa kembali ingatan tentang bagaimana sepak terjang Kerajaan Aru di masa silam. Tak hanya ingatan bahwa kerajaan ini membawa perjumpaan kisah antara Karo, Melayu, dan Aceh, tetapi juga mengenai siapa ahli waris kerajaan besar itu.

Benteng Putri Hijau merupakan peninggalan dari Kerajaan Aru yang ditemukan di Kecamatan Namorambe, Kabupaten Deli Serdang, Sumatera Utara. Ia mengalami kerusakan akibat adanya pembangunan perumahan yang dilakukan oleh pengembang swasta. Meski berada di Deli Tua, kerajaan ini semula berdiri di Besitang, yang kini berada di Kabupaten Langkat, Sumatera Utara, dan mulai disebut namanya pada sekitar abad 13.

Saat ini belum ada mufakat mengenai siapa Kerajaan Aru itu. Masyarakat Karo, misalnya, menyebutkan bahwa Aru merupakan Haru yang berasal dari kata “Karo”. Karena itu, masyarakat Aru merupakan masyarakat Karo yang didirikan oleh klan Kembaren. Dalam “Pustaka Kembaren” (1927), marga Kembaren disebut berasal dari Pagaruyung di Tanah Minangkabau.

Orang Karo ini, menurut Majalah Inside Sumatera (November 2008), tak mau disamakan dengan marga Karo yang sekarang, yang disebut sebagai Karo-Karo (bukan asli). Orang Karo-Karo, seperti Tarigan, Sembiring, Perangin-angin, Sitepu, dan Ginting, baru turun ke Deli pada awal abad ke-17.

Sejumlah sumber lain juga menyebutkan bahwa Kerajaan Aru merupakan kerajaan Melayu yang amat besar pada zamannya. Akan tetapi, Daniel Perret dalam buku “Kolonialisme dan Etnisitas” (2010), yang merujuk pada R. Djajadiningrat dalam buku “Atjehsch-Nederlandsch Woordenboek” (1934), mengatakan bahwa dalam bahasa Aceh “Haro” atau “Karu” berarti suasana bergejolak dan rusuh di sebuah wilayah.

Betapapun identitas Kerajaan Aru belum terkuak penuh, Tengku Luckman Sinar dalam buku “Sari Sejarah Serdang” (edisi pertama, 1971) mencatat bahwa nama Aru muncul pertama kali pada 1282 dalam catatan Tionghoa pada masa kepemimpinan Kublai Khan. Dan menurut Perret, nama Aru kembali muncul pada 1413 dalam catatan Tionghoa dengan nama “A-lu” sebagai penghasil kemenyan. Pada 1436, sumber Tionghoa lain kembali menyebutkan bahwa “A-lu”  memiliki beras, kamper, rempah-rempah, dan pedagang-pedagang Tionghoa sudah berdagang emas, perak, dan benda-benda dari besi, keramik, dan tembaga di Tan-Chiang (Tamiang).

Secara wilayah, kekuasaan Kerajaan Aru memang cukup luas. Ia terbentang dari Sungai Tamiang, Aceh kini, hingga Sungai Rokan, Riau kini. Jelasnya, ia meliputi sepanjang pesisir Sumatera Timur. Posisinya yang menghadap ke Selat Melaka membuat kerajaan ini memainkan peranan penting dalam perniagaan dan aktivitas maritim. Selat Melaka merupakan jalur perdagangan laut yang amat aktif dalam periode yang begitu panjang, yakni mulai abad permulaan masehi hingga abad 19.

Bahkan, Perret menyebutkan bahwa dalam hal tempat perdagangan, Aru merupakan negara yang setara dengan Kerajaan Melaka semasa dipimpin oleh Sultan Mansyur Shah yang berkuasa dari 1456 sampai 1477. Di awal abad 15, Aru dan China juga disebut pernah saling melakukan kunjungan. Posisinya yang strategis membuat Kerajaan Aru menjadi pentas politik pun perdagangan bagi negara-negara lain.

Kerajaan Aru juga dikatakan kerap berkonflik dengan Kerajaan Pasai (Aceh). Pada awal abad 16, Aru menyerbu Pasai dan membantai banyak sekali orang di sana. Namun, serangan itu dibalas oleh Pasai. Melalui serangan berkali-kali, Aceh berhasil menjebol pertahanan Kerajaan Aru hingga rontok.

Para petinggi Kerajaan Aru lalu melarikan diri ke Deli Tua dan memindahkan pusat kekuasaan baru di sana. Akan tetapi, meski sudah berpindah tempat, Kerajaan Aceh masih terus merangsek Kerajaan Aru II itu. Motif penyerangan Kerajaan Aceh kali ini diketahui karena keinginan rajanya untuk menikahi Ratu Aru II, yang dikenal sebagai Putri Hijau.

Dari beberapa sumber, tertulis bahwa Raja Kerajaan Aceh mengirimkan surat yang berisi tiga hal kepada Putri Hijau. Pertama, meminta Putri Hijau bersedia menjadi permaisuri Raja Aceh. Kedua, Aceh adalah Serambi Mekkah dan Aru adalah Serambi Aceh. Karena itu Aru diminta tunduk kepada Aceh. Dan ketiga, Aceh akan menyebarkan agama Islam di Aru.

Dalam catatan Karo dari Biak Ersada Ginting yang banyak dikutip oleh berbagai sumber, Putri Hijau, yang saat itu bertuhankan Dibata Si Mila Jadi – yang bermakna Tuhan yang maha pertama, paling akhir, dan hanya Dia yang tetap hidup – menolak mentah-mentah lamaran Raja Aceh.

Akan tetapi, berbeda dengan Biak Ersada Ginting, Perret mengatakan bahwa, sembari merujuk pada penulis Perancis F. Mendes Pinto dalam buku “chez Cotinet et Roger” (1645), masyarakat Aru dan rajanya adalah muslim. Dan dalam kutipan dari “Hikayat Melayu” dan “Hikayat Raja-raja Pasai”, Kerajaan Aru atau Haru disebut sudah menganut Islam pada pertengahan abad 13; lebih dahulu ketimbang Aceh dan Malaka.

Merasa terhina, penolakan dari Putri Hijau kemudian berbuntut pada pecahnya kembali perang besar antara Kerajaan Aceh dengan Kerajaan Aru II. Masih di abad 16 itu, setelah berkali-kali melakukan serangan, Kerajaan Aceh yang disebut-sebut didukung oleh sejumlah pasukan dari Turki kembali berhasil mengalahkan Kerajaan Aru II. Kerajaan Aru II tak hanya roboh, tetapi hancur dan musnah.

Dari puing Kerajaan Aru II inilah berdiri Kerajaan Deli. Panglima Gocah Pahlawan (asal India) dari Kerajaan Aceh kelak menjadi Sultan Kerajaan Deli pertama yang berkuasa pada 1632-1653.

Langkat
Meski digempur hebat, menurut Zainal Arifin dalam buku “Subuh Kelabu di Bukit Kubu” (2002) yang diterbitkan oleh Dewan Kesenian Langkat, petinggi Aru yang baru itu tak turut tewas. Ia melarikan diri ke Kota Rentang Hamparan Perak, Deli Serdang kini (Sumatera Utara), dan mendirikan kerajaan baru dengan rajanya yang bernama Dewa Syahdan (1500-1580). Kerajaan inilah yang kemudian melahirkan Kerajaan Langkat.

Langkat berasal dari nama sebuah pohon yang menyerupai pohon langsat. Pohon langkat memiliki buah yang lebih besar dari buah langsat namun lebih kecil dari buah duku. Rasanya disebut-sebut pahit dan kelat. Pohon ini dahulu banyak dijumpai di tepian Sungai Langkat, yakni di hilir Sungai Batang Serangan yang mengaliri kota Tanjung Pura. Hanya saja, pohon itu kini sudah punah.

Selain itu, yang menarik adalah pengakuan dari para tetua Langkat, hingga kini, yang menganggap dirinya adalah keturunan marga Perangin-angin. Utamanya yang berasal dari Bahorok maupun Tanjung Pura. Padahal, jika dilihat dari pandangan orang Karo semula ihwal Kerajaan Aru, tentu ini menjadi membingungkan.

Di masa Kerajaan Langkat, para keturunan pembesar Aru yang masih berada di Besitang, Aru I, kembali membangun reruntuhan kerajaan yang sudah luluh lantak. Kawasan Besitang kemudian menjadi kejuruan yang berada dalam lingkup Kerajaan Langkat. Kejuruan ini memiliki kawasan sampai ke Salahaji, desa di Kecamatan Pematang Jaya kini (Kabupaten Langkat). Sedangkan Kerajaan Langkat sendiri meluaskan wilayahnya sampai ke Tamiang, Kabupaten Aceh Tamiang kini (Aceh), dan Seruai, Deli Serdang kini.

Besitang kemudian dikenal sangat setia pada Kerajaan Langkat. Ia kerap menjadi palang pintu bagi pihak lain yang ingin melakukan penyerbuan kepada Kerajaan Langkat, seperti serangan dari Gayo dan Alas.

Setelah Dewa Syahdan wafat, Kerajaan Langkat kemudian dipimpin oleh anaknya, Dewa Sakti, yang memerintah dari 1580 takat 1612. Pada 1612, Dewa Sakti yang bergelar Kejuruan Hitam ini dikabarkan hilang (tewas) dalam penyerangan yang kembali dilakukan oleh Kerajaan Aceh.

Sejumlah referensi menyebutkan bahwa sesudah Dewa Sakti, Kerajaan Langkat dipimpin oleh anaknya yang bernama Sultan Abdullah (1612-1673). Akan tetapi, dalam sebuah terombo, tak ditemukan nama Sultan Abdullah sebagai anak Dewa Sakti. Terombo tersebut menampilkan bahwa anak dari Dewa Sakti adalah T. Tan Djabar dan T. Tan Husin. Dan dari Tan Husin, generasinya adalah T. Djalaluddin yang disebut juga Datuk Leka (Terusan), T. Bandarsjah, T. Oelak, dan T. Gaharu.

Sultan Abdullah yang banyak disebut dalam literatur kemudian wafat dan dimakamkan di Buluh Cina Hamparan Perak dengan gelar Marhum Guri. Selanjutnya, tahta Kerajaan Langkat jatuh pada anak Sultan Abdullah, yakni Raja Kahar (1673-1750). Di zaman Raja Kahar, pusat Kerajaan Langkat dipindahkan dari Kota Rentang Hamparan Perak ke Kota Dalam Secanggang.

Tak hanya itu, Raja Kahar juga melakukan banyak perubahan, baik dalam manajemen negara maupun kepemimpinan. Perubahan itu, menurut Zainal Arifin, membuat sejumlah kalangan lantas menetapkan bahwa ialah pendiri Kerajaan Langkat pada 17 Januari 1750.

Raja Kahar memiliki tiga orang anak, yakni Badiulzaman (1750-1814) yang bergelar Sutan Bendahara, Sutan Husin, dan Dewi Tahrul. Setelah Raja Kahar wafat, Badiulzaman menjadi Raja Kerajaan Langkat dan Sutan Husin menjadi raja di Bahorok. Di masa Sutan Bendahara, wilayah Kerajaan Langkat meluas. Saat wafat, ia dimakamkan di Pungai dan diberi gelar Marhom Kaca.

Selanjutnya, tahta Kerajaan Langkat diserahkan kepada anak tertua Badiulzaman, Tuah Hitam, yang memerintah sejak 1815 takat 1823. Oleh Tuah Hitam, Istana Kerajaan Langkat dipindahkan ke Jentera Malai yang tak jauh dari Kota Dalam. Sementara itu, adik Tuah Hitam, Raja Wan Jabar menjadi raja di Selesai, dan adik ketiga, Syahban, menjadi raja di Pungai. Sedangkan si bungsu, Indra Bongsu, tetap tinggal bersama Tuah Hitam.

Di masa kepemimpinan Tuah Hitam, serangan terhadap Kerajaan Langkat kini berasal dari Kerajaan Belanda dan Kerajaan Siak Sri Inderapura. Pada awal abad ke-19, serangan bertubi-tubi Kerajaan Siak Sri Inderapura membuat Kerajaan Langkat takluk.

Pada 1823, dalam catatan Zainal Arifin, pasukan Tuah Hitam bergabung dengan Sultan Panglima Mengedar Alam dari Kerajaan Deli. Tujuannya untuk merebut kembali Kerajaan Langkat dari Kerajaan Siak Sri Inderapura dan Belanda. Tetapi, dalam perjalanan kembali dari Deli, Tuah Hitam tewas.

Sementara itu, Kerajaan Siak Sri Inderapura membuat gerakan untuk menjamin kesetiaan Kerajaan Langkat, yakni dengan mengambil anak Tuah Hitam, Nobatsyah, dan anak Indra Bongsu, Raja Ahmad. Keduanya dibawa ke Kerajaan Siak Sri Inderapura untuk diindoktrinasi dan dikawinkan dengan putri-putri Siak. Nobatsyah kawin dengan Tengku Fatimah dan Raja Ahmad kawin dengan Tengku Kanah.

Setelah itu, keduanya dipulangkan kembali dan menjadi raja ganda di Kerajaan Langkat. Nobatsyah diberi gelar Raja Bendahara Kejuruan Jepura Bilad Jentera Malai dan Raja Ahmad bergelar Kejuruan Muda Wallah Jepura Bilad Langkat.

Seperti sudah diperkirakan, kepemimpinan ganda Nobatsyah dan Raja Ahmad menuai pertikaian. Sengketa kekuasaan berujung pada tewasnya Nobatsyah di tangan Raja Ahmad. Selanjutnya, Raja Ahmad menjadi Raja Kerajaan Langkat antara 1824 takat 1870. Di zaman Raja Ahmad, pusat Kerajaan Langkat dipindahkan ke Gebang, yakni di sekitar Desa Air Tawar kini.

Pada 1870, Raja Ahmad tewas karena diracun. Dan anaknya, Tengku Musa atau Tengku Ngah, naik menjadi raja. Di masa Tengku Musa inilah Kerajaan Langkat banyak mendapat tekanan, baik dari Aceh maupun negeri-negeri yang berada di dalam Kerajaan Langkat sendiri.

Pada pertengahan abad 19, menurut situs http://www.acehpedia.org, Kerajaan Aceh menggalang kekuatan dari negara-negara di Sumatera Timur untuk menghadang laju gerakan Belanda bersama pembesar-pembesar Siak. Di masa ini, negara-negara di Sumatera Timur, seperti Kerajaan Deli, Kerajaan Serdang (yang merupakan pecahan dari Deli), dan Kerajaan asahan menyambut baik ajakan Kerajaan Aceh untuk memerangi Belanda. Bahkan ada yang mengibarkan bendera Inggris sebagai simbol perlawanan.

Akan tetapi, hanya Kerajaan Langkatlah yang menolak seruan perang sabil itu, meski Kejuruan Bahorok mengobarkan api pada rakyat untuk berperang dengan Belanda. Bahkan Sultan Musa meminta bantuan Belanda-Siak untuk menghantam Kejuruan Stabat karena bekerjasama dengan Kerajaan Aceh.

Saat Kerajaan Langkat menuai kontroversi, Kejuruan Besitang tetap menampilan kesetiaannya. Dalam catatan Zainal Arifin, ketika Tengku Musa banyak mendapat serangan, termasuk dari Raja Stabat, Bahorok, dan Bingai, Besitang tetap menjadi perisai bagi Kerajaan Langkat. Meski demikian, ada juga sejumlah petinggi Besitang yang mengorganisasikan rakyat untuk menentang Belanda, walau kemudian diredam.

Tengku Musa atau Sultan Musa memiliki tiga orang anak, yakni Tengku Sulong yang menjabat Pangeran Langkat Hulu, Tengku Hamzah yang menjabat Pangeran Langkat Hilir, dan Tengku Abdul Aziz. Dalam tradisi kerajaan, anak tertua adalah pewaris tahta. Namun, Sultan Musa tak melakukan itu.

Pada 1896, ia memberikan tahtanya pada si bungsu, Tengku Abdul Aziz, meski belum dilantik karena alasan usia yang terlalu muda. Penyebab tindakan Sultan Musa tak lain karena ia terikat janji dengan dengan istrinya, Tengku Maslurah, yang merupakan permaisuri Raja Bingai.

Perkawinan Musa dan Maslurah memang perkawinan politik. Setelah Langkat menggempur Bangai, maka sang permaisuri diambil oleh sang pemenang, sebagaimana yang terjadi pada zaman raja-raja. Akan tetapi, Maslurah tetap meminta syarat, yakni anak dari perkawinannya dengan Sultan Musa kelak haruslah menjadi Raja Langkat.

Tindakan Sultan Musa melahirkan protes dari anak-anaknya yang lain, terutama Tengku Hamzah. Sempat terjadi upaya kup, namun tak berhasil. Tengku Hamzah lalu memisahkan diri dari Istana Kerajaan Langkat, Darul Aman, dan membangun istananya sendiri di Kota Pati. Karena posisinya yang berada di tanjung atau persimpangan, maka Tengku Hamzah juga dikenal sebagai Pangeran Tanjung. Dan tak jauh dari istana, ada sebuah pura atau pintu gerbang tempat para anak raja mandi di sungai. Alhasil, nama kawasan itu kemudian disebut Tanjung Pura.

Tengku Hamzah kemudian memiliki seorang putra bernama Tengku Pangeran Adil. Pangeran Adil dikenal pemberani dan sangat membenci Belanda. Beberapa kali ia terlibat perkelahian dengan orang-orang dari Eropa itu. Dan dari Pangeran Adillah lahir anak bernama Tengku Amir Hamzah, seorang penyair besar yang kelak turut menggelorakan gerakan anti kolonialisme melalui gagasan Indonesia.

Pada 1896, Tengku Abdul Aziz pun dilantik menjadi Sultan Langkat. Sebelum dilantik, ditemukan pula sumber minyak di Telaga Said Securai pada 1869. Minyak ini lantas dieksplorasi pada 1883 melalui kerjasama dengan Maskapai Perminyakan Belanda ketika itu, yang juga menjadi embrio munculnya Pertamina kelak, yakni De Koninklijke (De Koninklijke Nederlandsche Maatschappij tot Exloitatie van Petroleum bronnen in Nederlandsche-Indie). Minyak di Pangkalan Brandan ini, yang ditambah dengan perkebunan, kian menambah Langkat sebagai negara paling kaya di Sumatera Timur.

Usai Abdul Aziz, tahta Kerajaan Langkat kemudian turun kepada anaknya, Tengku Mahmud, yang bergelar Sultan Mahmud Abdul Aziz Abdul Jalil Rahmadsyah. Seperti kebiasaan sebelumnya, Tengku Mahmud memindahkan lagi pusat Kerajaan atau Kesultanan Langkat ke Binjai dan mendirikan  istana baru di sana.

Di masa Sultan Mahmud, tepatnya kala Kerajaan Jepang masuk dan membuat Kerajaan Belanda tersungkur, sejumlah catatan menunjukkan penderitaan rakyat. Rakyat diperas dan diperbudak untuk mengerjakan proyek-proyek Jepang. Di sini tak ditemukan bagaimana relasi, kontestasi, dan peta politik Langkat dengan negara-negara tetangga.

Yang tercatat, sebagaimana ditulis oleh Zainal Arifin, adalah perlawanan yang dilakukan negeri Besitang yang dipimpin oleh Wakil Kepala Negeri Besitang, OK. M. Nurdin yang bergelar Datuk Setia Bakti Besitang. Datuk Besitang ini semula adalah Datuk Panglima Sultan Langkat. Ia ditarik ke dalam istana oleh Sultan Mahmud demi meredam kemarahan Belanda karena tindakan-tindakan sang datuk yang kerap menantang Belanda.

Saat Belanda hengkang, Nurdin pun dikembalikan lagi ke Besitang. Dan disitulah ia melakukan konsolidasi untuk melawan Jepang. Kejadian yang terkenal adalah di saat ia dan pasukannya menyerang markas Jepang yang berada di Stasiun Kereta Api Besitang pada 15 Desember 1945. Penyerangan itu berhasil. Enam tentara Jepang tewas dan sisanya melarikan diri ke Pangkalan Berandan. Senjata-senjata Jepang dilucuti.

Namun, pada malam itu juga, dini hari, Jepang membalas. Seorang diri Nurdin tersergap pasukan Jepang yang menaiki beberapa truk militer. Mungkin karena merasa tak ada jalan mundur, Nurdin, yang ketika itu berusia 75 tahun, melawan. Ia diceritakan sempat membunuh puluhan serdadu Jepang sebelum akhirnya tewas mengenaskan. Jenazahnya dibuang ke dalam sungai.

Sebelum Jepang masuk, Sultan Mahmud mencoba menyatukan kembali kekuatan Kerajaan Langkat. Diantara yang ia lakukan adalah menikahkan cucu Tengku Hamzah yang juga anak Tengku Pangeran Adil, Tengku Amir Hamzah, dengan anaknya sendiri, Tengku Kamaliah. Saat itu, Amir Hamzah disebut sudah memiliki kekasih seorang Jawa. Sedangkan adik perempuan Sultan Mahmud dinikahkah dengan putra mahkota Kesultanan Selangor, Malaysia kini, yakni Sultan Salahuddin Abdul Aziz Shah Alhaj Ibni Sultan Hasanuddin Alam Syah.

Amir Hamzah kala itu sedang berada di Jawa dan Jakarta untuk bersekolah sembari melakukan gerakan-gerakan melawan kolonialisme dan sedang bergulat dengan gagasan keindonesiaan. Karena panggilan Sultan, pada 1937 ia pun pulang. Ia diberi jabatan Raja Muda atau Pangeran dengan wilayah tugas Langkat Hilir yang berkedudukan di Tanjung Pura dan berkantor di Balai Kerapatan, gedung Museum Kabupaten Langkat kini.

Setelah itu, sejumlah jabatan dibebankan pada Amir Hamzah. Ia memimpin Teluk Haru di Pangkalan Brandan, kemudian ditarik ke Istana sebagai Bendahara Paduka Raja di Binjai, lalu memimpin Langkat Hulu, juga di Binjai. Pada masa Jepang, ia juga menjadi Ketua Pengadilan Kerapatan Kerajaan Langkat.

Sewaktu Soekarno-Hatta menyatakan proklamasi Indonesia pada 17 Agustus 1945 di Jakarta, kabar itu belum sampai ke Kerajaan Langkat. Tapi tak lama kemudian, suasana mulai memanas. Laskar-laskar terbentuk. Dan pada 5 Oktober 1945, Sultan Mahmud kemudian menyatakan penggabungan negaranya dengan negara Republik Indonesia.

Pada 29 Oktober 1945, Tengku Amir Hamzah diangkat menjadi Asisten Residen (Bupati) Langkat dan berkedudukan di Binjai oleh Gubernur Sumatera, Mr. TM. Hasan.

Pada masa itu, Kerajaan Langkat seperti ibu yang hamil tua. Seperti akan ada yang terjadi. Di satu sisi, Langkat adalah negara yang punya hubungan dengan Kerajaan Belanda. Tapi di sisi lain, laskar-laskar yang mulai bermunculan amat membenci Belanda. Sejumlah sumber menyebutkan bahwa laskar-laskar itu adalah buruh-buruh pendatang, yang diorganisasikan oleh kaum komunis di Jawa, yang tak senang pada kerajaan.

Gesekan dan perang dingin antara Kerajaan Langkat dengan laskar-laskar terus terjadi. Di sini, sosok Amir Hamzah adalah simbol terbaik mengenai terjepitnya batin manusia Langkat diantara dua identitas. “…Tenggelam dalam malam/ Air di atas menindih keras/ Bumi di bawah menolak ke atas” adalah salah satu bait dari puisi Amir, “Hanyut Aku”, yang dapat dibaca dalam konteks ini.

Meski demikian, Amir menegaskan pernyataan yang amat terkenal:

“Lari dari Binjai patik pantang. Patik adalah keturunan Panglima, kalah di gelanggang sudah biasa. Dari dahulu patik merasa tiada bersalah kepada siapa. Jadi salah besar dan tidak handalan, kalau patik melarikan diri ke kamp NICA di Medan. Sejak Sumpah Pemuda, patik ingin merdeka.”

Namun ketegangan memuncak pada 3 Maret 1946. Sore itu, Amir Hamzah beserta seluruh pembesar kerajaan diculik. Amir dibawa ke berbagai tempat untuk kemudian dipancung oleh Mandor Yang Wijaya, orang yang pernah mengabdikan diri di Istana Kerajaan Langkat. Akan tetapi, Sultan Mahmud tak turut dibunuh. Ia ditangkap dan diasingkan hingga kemudian wafat karena sakit.

Penculikan dan pembunuhan para pimpinan negara ini membuat suasana mencekam. Revolusi sosial merebak. Ribuan orang eksodus ke berbagai tempat, secara sendiri-sendiri, per keluarga, maupun rombongan. Ada yang ke Kutacane (Aceh), Lau Sigala-gala (Tanah Karo, Kabupaten Aceh Tenggara kini), Medan (Sumatera Utara kini), atau ke tempat-tempat yang dekat, seperti Bahorok.

Tak lama kemudian, 30 Juli 1947, dua buah istana di Tanjung Pura dan satu buah istana di Binjai dihancurkan oleh massa. Istana-istana Kerajaan Langkat rata dengan tanah. Riwayat pun usai. Roboh bersimbah darah. Di pertengahan abad 20, ahli waris Kerajaan Aru itu tersungkur.

Posted by ; TM. Dhani Iqbal ,  disadur dari : http://www.lenteratimur.com/aru-dahulu-langkat-kemudian/

Hym Tanah Melayu ( Refleksi Lagu Tengku Ryo by album Kecik )

Wahai tanah ku tanah ku melayu

Sungguh lah permai sedari dulu

Wahai tanah ku tanah ku melayu

Tetaplah masyhur sepanjang masa

Wahai tanah ku tanah ku melayu

Terbentang luas darat dan lautan

Wahai tanah ku tanah ku melayu

Damai berbuah menjadi satu

Adat budaya serta bahasa

Marwah terjaga sepanjang masa

Walaupun jauh badan berada

Takkan hilang resam di jiwa

Wahai tanahku tanahku ku melayu

Sair dan pantun sungguhlah merdu

Wahai tanahku tanahku melayu

Engkaulah satu tempatku beribu

Dalam lah hati ku berdoa

Kepada tuhan yang maha kuasa

Biarpun jiwa terpisah raga

Namun tanahku tetaplah jaya

Biarpun jiwa terpisah raga

Namun tanahku tetaplah jaya

Syair yang di nyayikan dalam album Kecik Tengku Ryo “Rizqan” mampu membawa sebuah irama yang menjadikan sebuah lagu yang memiliki sebuah semangat  akan kebanggaan sebagai bangsa melayu  , dengan alunan dan gesekan biola sang maestro yang sudah tiadak asing lagi baik di singapore, malaysia , brunai. ( Dalam Lawatan Konser Di beberapa Negara Tetangga ) dengan irama melayu yang diusung dalam manajemen the malay , menunjukkan bahwa melayu adalah sebuah  Jati diri bangsa tidak ada batasan antara Malaysia, Indonesia, Brunai , Philipina, Thailand maupun Brunai semua adalah Satu bangsa.

Beberapa resume dan rangkuman di beberapa media Malaysia dalam lawatan ke negara Jiran dengan selalu mengedepankan budaya Melayu ( dalam konser Selalu menggunakan Pakaian Teluk Belanga khas Melayu ) bila sang hangtuah di pinggang menyematkan  keris pusaka  dan siap mengayuhkan sri Mersing  dalam pertarungannya,  sang Pemusik yang satu Ini Tak pernah Lepas dari biolanya dan laksana sang pendekar mengayuhkan gesekan biolanya yang menghujam nadi dalam konsernya.

Ketika Mendengar syair Hyme Tanah Melayu Ketika di bawakan Dalam Konser di malayasia seluruh Hadirin dan seluruh khalayak ramai bangkit berdiri menyanyikan lagu yang menjadikan simbol sebuah semangat akan kejayaan sebuah bangsa melayu, dengan kepiawaiannya menggabungkan musik kontemporer dalam irama yang tradisional dalam alunan violin menjadikan sebuah musik yang di tampilkan mampu membawa penikmat musik baik kalangan tua maupun muda mampu menyelami kedalaman makna yang tersirat, dalam beberapa genre lagu Patam-patam yang menjadi musik pembuka dalam sambutan pencak silat tidak merubah irama aslinya , begitu juga lagu Sri Langkat dan juga beberapa lagu yang mencoba tetap mengedepankan musik melayu sejatinya.

Menatap wajah Melayu di Indonesia memerlukan sebuah Paradigma Baru dimana mampu meletakkan dasar-dasar kebangsaan dan memberikan ruang berkembangnya sebuah budaya tanpa ada sekat-sekat ditanah yang prulalisme tanpa ada upaya meminimalisir suatu peran dan dikotonomi dalam mengedepankan arti sebuah bangsa. Ketika upaya untuk menekan dan membatasi ruang gerak suatu Perkembangan budaya maka gerakan budaya itu sendiri yang mencoba mendorong segala perubahan dari tatanan moral dan nilai yang hadir memberikan sebuah makna dalam berbangsa dan negara.

Upaya dikotonomi secara implist telah tertanam dan mengakar dan menjadi sebuah paria bagi sebuah bangsa yang bernama Indonesia, ketika dalam ruang Politik , Ekonomi dan sosial menjadi alat dalam pemasungan kebebasan sebuah peradaban yang di jadikan alasan atas nama keamanan dan kestabilitasan Nasional. Cerita Yang masih menjadi Momok Bangsa ini ketika ruang dan Peran dan Hak Politik Adalah Milik segelintir orang-orang yang didalam semangatnya di tanamkan dalam sejarah bangsa ini sebuah Sumpah yang sangat keramat dan menjadi Ilmu sakti mandaraguna dari kejayaan Majapahit.

Ketika Sumpah Palapa Adalah Adalah Pengikat dan Pemersatu Bangsa Ini , adakah sebelumya kita Juga Paham akan sebuah Bangsa akan kejayaan dimasa silam atas Kisah –kisah yang terlupakan dalam rekam jejak bangsa ini atas peran dan tokoh bangsa ini yang ikut berperan dalam menitikan darah dan airmata demi sebuah bangsa indonesia yang bertebaran dari hujung barat indonesia hingga hujung timor pulau irian Jaya.

Kejayaan Kerajaan Melayu yaitu Samudera Pasai, Kerajaan Sriwijaya dan Kerajaan Teluk aru , Kerajaan Kutai Kertanegara  dan kerajaan-kerajaan lainnya yang menunjukkan jati diri bangsa Melayu yang telah dahulu hadir di Sejarah Bangsa Ini laksana tersamarakan disengaja atau kekurangan bahan untuk penggalian informasi di literatur dalam rekam jejak bangsa yang bermartabat ini.

Dalam Tatanan Budaya sebuah Bangsa dapat tercermin akan sebuah ketinggian derajat  dari sebuah adat istiadat  yang telah menjadi akar turun temurun sebuah Bangsa yang tercermin diantaranya adalah peninggalan bersejarah yang tidak mungkin tergantikan  dan telah menjadi bukti ditanah melayu  berdiri dengan megah Masjid sebagai tanda penyerahan Diri kepada Sang Khaliknya dan Di kitarannnya bersanding Sebuah Istana sang Pemangku Pemerintahan ( Hal ini dapat di lihat di beberapa Bekas Kesultanan Deli, Langkat,Aceh  dan Siak ), walaupun istana Kesultanan Langkat  di tanjung pura telah punah namun puing-puing baik berupa gapura masih tersisa dan terlihat  jelas bahwa antara masjid azizi dan Istana Darul Aman tidak terlalu jauh. ( Istana Kerajaan dimana sekarang berada di Sekolah MAN 2 Tanjung Pura).

Kejayaan bangsa Melayu menjadi sebuah semangat Menatap sebuah Kisah dari Peradaban yang hilang dari sebuah negeri dan dimulai dari semangat membangun Negeri. Ditanah Melayu terlahir sebuah yang menjadi adat dan resam budaya Kisah Hangtuah Panglima laut yang Perkasa dengan 3 sahabatnya ( Hang Leukir,Hang Jebat,Hang Kesturi), Kisah Putri Hijau yang melegenda di masyarakat Melayu ( di wilayah deli tua ditemukan situs Benteng putri hijau, dan diyakini sebagai lokasi Kerajaannya dan di istana Deli tersisa Meriam Puntung ) Di era Kemerdekaan Hadir sang Penyair rindu Tengku Amir Hamzah , dan juga tokoh-tokoh melayu yang mendarma baktikan untuk bangsa ini tersebutlah Adam Malik ( wakil Presiden) , Tengku Rizal Nurdin ( Gubernur Sumut) dan beberapa nama yang pernah dan menjadi sebuah kebanggan bangsa melayu walaupun tidak terangkum dalam catatan sejarah bangsa ini.

“Melayu takkan hilang di bumi” menjadi sebuah idiom yang di tuangkan oleh Laksamana Hang tuah dan mendobrak semangat bagi bangsa melayu untuk maju dengan berbagai slogan dalam menatap kedepan diantaranya yaitu, “ Sekali Layar Terkembang Pantang surut Kita Berpantang “ atau “ Setepak sirih sejuta Pesan “ Dengan menjadikan Kajian akan Budaya Melayu beberapa[i] Rentak Tari Japin , Serampang Dua Belas menjadi ciri budaya melayu, dengan irama musik Pak-Pung ( musik diiringi irama Gendang kulit yang di tabuh dengan jemari Tangan oleh pemainnya) menjadikan tarian melayu memiliki warna corak budaya dengan dihias pakaian teluk belanga ( pakain lelaki yang berbaju dan bercelana lebar dan dihiasi sarung di ikat dipanggang di pakai setengah diatas lutut kaki dan di kepala menggunakan Peci) dan wanita dengan pakaian Kurung ( Pakaian panjang yang berbentuk terusan tanpa berlekuk longgar hingga ke tumit kaki dan di hiasan penutup rambut kepala di balutkan selendang .)Tata Busana yang menunjukkan sebuah tata nilai dan Norma akan adat budaya menjadi padanan dalam berkehidupan di masyarakat.

Bentuk Penghormatan kepada sang penguasa di lakukan dalam sebuah slogan yang berbunyi : “ Raja adil raja Di sembah , Raja Lalim Raja Di tentang “ dimana setiap Pemangku Istana memiliki penasehat Spritual dan tempat mengkaji ilmu Agama dalam mengasah keimanan kepada sang pencipta, dalam pola masyarakat terbentuk pendidikan disurau atau dilanggar dilaksanakan pengajian dalam pembinaan akhlak dan budi pekerti, dan salah salah satu bentuk pelaksanaan syariat agama di lingkungan Masyarakat dan pemerintahan  berdasarkan pada Tariqah ( berdasar kata Tarigh yang berarti jalan, cara upaya mengeesakan Allah  ) Nasaqbandiyah  yang di bawa oleh Tuanku Guru Syech Abdul Wahab Rokan yang berpusat di kampung Besilam ( Babussalam ; berarti Pintu rahmat).

Kisah Tentang Perjalanan Menuju sebuah Bentuk pengabdian hamba ke sang khalik  tidak terlepas dari hidayah dan petunjuk sang maha kuasa , cerita ini turun temurun dikisahkan dimana ketika salah satu pangeran ( anak sultan  Langkat )  menderita sakit keras beliau bermimpi akan ada seorang hamba Allah yang berasal dari rokan yang dapat menyembuhkan sakit, dengan titah sang sultan di utus beberpa mantri istana mencari keberadaan yang dimaksud  , dan akhirnya dengan kekuasaan Allah tuanku Guru dapat hadir dan menyembuhkan sakit dari sang pangeran, atas permintaan sultan langkat agar Tuanku Guru Syech Wahab Abdul wahab Rokan bermukim di wilayah langkat dan sultan memberikan tanah tempat untuk mengembangkan ilmu agama berdasarkan tariqah di besilam dengan pengikutnya.

Di tanah yang di berkahi Allah dengan kehadiran Tuanku Guru Syech Abdul Wahab Rokan , Kesultanan Langkat menjadi Makmur dimana hasil bumi mencukupi kebutuhan hidup seluruh rakyat dengan hasil Karet,Sawit, Tebu dan ditemukan ladang minyak di pangkalan Berandan ( Cikal Bakal Pertamina yang merupakan Ladang Minyak pertama di indonesia ). Ketika Masa Kekuasaan Kolonial Belanda yang melaksanakan Konsesi atas kepemilikan beberapa penguasaan industri diwilayah Kekuasaan Kesultanan Langkat penggunaan alat-alat induistri Modern telah digunakan dan pengangkutan dengan kereta api Uap melintasi wilayah aceh hingga sumatera deli , Ladang-ladang Minyak menggunakan pengeboran dengan tenaga asing , juga penggunaan Transportasi Laut berupa kapal-kapal angkut besar jelas menunjukan kemajuan dan kemakmuran Negeri, hal ini terdokumentasi di arsip di negara Belanda.

Ketika terjadi perselilisahan antara kepentingan pihak Asing dimana  Tuanku Guru  dan pengikutnya di tuduhkan oleh pemerintah belanda membuat uang Palsu , hal ini  membuat Beliau tersinggung dan meninggalkan tanah langkat . Setelah Kepergian Tuanku Guru menjadikan tanah langkat  yang dahulunya menghasilkan Minyak Bumi diladang-ladangnya di sudut negeri menjadi kering  hingga beberapa tahun. Dengan Melihat hal tersebut pada akhirnya Kesultanan memohonkan maaf atas khilafan dan memintakan tuanku guru kembali ke tanah Langkat dan menjalankan siarnya demi kemakmuran langkat. Sebagai Hamba Allah yang memiliki Karomah dan Kemulian akhirnya Tuanku Guru Syeh Abdul Wahab Rokan Menerima permintaan sultan yang juga merupakan salah satu murid beliau , dan di besilam ( Masyarakat sering Menyebutnya ) berdiri rumah Panggung tuanku disana tempat muridnya meningkatkan keimanan kepada Allah Sang pencipta  dan masyarakat menyebutnya  Rumah Suluk (bahasa arabnya yaitu iktikaf, munajat yang bisa diartikan beserah diri melaksanakan ibadah dimana manusia menyendiri dalam penyerahan diri meninggalkan hal-hal duniawi dalam peningkatan keimanan).

Pelaksanaan Suluk sendiri bagi Murid dan siapa saja yang ingin mencari Ketenangan jiwa akan di bimbing oleh Mursid dan menjalani kegiatan selama di rumah suluk diiringi dengan peribadatan dan disediakan ruang tidur yang beralaskan tikar dalam pencapain keimanan kepada sang Khalik. Di Masjid Utama para murid melaksanakan kegiatan dan yasinan dan beberapa pengunjung terkadang mencari ketenangan dalam menghadapi permasalahan duniawi sebagai penawar sedingin mereka  membawa air dari sumur tempat wudhu di pelataran masjid  dimana memohonkan karomah yang di yakini dapat menyembuhkan segala Penyakit dan semua berkat izin Allah Semata.

Sekembalinya Tuanku Guru ditanah Langkat , yang tadinya ladang sumur minyak tidak menghasilkan minyak bumi berkat izin Allah memberikan kemakmuran pada Langkat atas Doa dan Keikhlasan Hambanya, Sumur sumur minyak di pangkalan Berandan kembali beroperasi dan juga di wilayah lain seperti di wilayah Pangkalan Susu. Langkat kembali Berseri dan sejahtera hingga pada akhir hayatnya Tuanku Guru Syeh Abdul Wahab Rokan Wafat dan dimakamkan di tanah Yang di Rahmati Allah di besilam,  diantara Murid-muridnya yang tersebar di beberapa negara silih berganti  berziarah ke makam beliau dan setiap Tahunnya yang dilaksanakan Haul yang di hadiri ribuan Jemaah di masjid Azizi Tanjung Pura dari  beberapa negara di penjuru dunia mengibarkan panji-panji Keislaman.

Diantara Beberapa wilayah Yang menjadi Kesultanan Langkat, Dimana Pusat Kekuasaan berada di wilayah Tanjung Pura ( dimasa Pemerintahan Kabupaten dijadikan Kecamatan, dan ibukota  dibangun perkampungan baru bernama Stabat), Bila di lihat dari kelengkapan sebuah Ibukota Tanjung Pura sejatinya adalah Layak dijadikan Pusat Ibukota tanpa menapikkan kisah kejayaan masa lalu hal ini didukung oleh ketersediaan Pelayanan Kesehatan yaitu rumah sakit, Ketersediaan Pendidikan , Ketersediaan Lembaga Permasyarakatan, Ketersediaan Perpustakaan daerah dan Pelayanan Telekomunikasi, dan areal cakupan yang luas.

Ditilik dari Akar Budaya selayaknyalah Kepedulian sebuah Bangsa menjadikan Tanjung Pura sebagai salah satu kota budaya dan wisata rohani dalam pengembangan sumber daya Manusia,  dari tanah tanjung pura di setiap sudut surau dan langgar hingga masjid berkumandang lantunan ayat-ayat suci Alquran dibacakan dari pengeras suara setelah shalat isya, mengobati kerinduan di masa-masa silam, Banyak diantara qori dan qoriah di tanjung pura yang menjadi imam Besar Masjid di pelosok negeri dan diantaranya Imam Masjid Istiqlal Di Jakarta.

Sungguh Potensi yang teramat besar tidak menjadikan bangsa ini menempatkan peran dan ruang yang tepat dalam pengembangan wilayah, Dan selalu Menjadikan Tanjung Pura mendapat  Predikat sebagai Kecamatan yang termiskin diantara beberapa kota di seluruh indonesia ( dari data Statistik BPS ). Sungguh Naif adanya kemiskinan yang termarginalkan ataukah upaya pemiskinan secara terstruktur dan hingga sekarang wajah kemiskinan itu tidak pernah berubah hingga kemerdekaan Bangsa inonesia.

Kemiskinan dan Pembangunan infrastruktur yang bergerak tidak mampu menopang kemajuan dan peningkatan perekonomian masyarakat, dan  dengan alasan etos kerja dan budaya masyarakat melayu  yang kerja nya Berkombur (Bercerita di warung kopi  ) dan identik dengan  malas , menjadikan alasan utama penyumbang tingkat kemiskinan di wilayah pesisir pantai timur sumatera ini.

Bila sering Cerita-cerita kisah melayu ada Kisah Pak Belalang ( pernah menjadi serial siaran TVRI ) yang seolah-olah menjadi simbol struktur masyarakat melayu di wilayah sumatera, dengan tingkah polanya menjadikan sebuah sitigma yang di berikan oleh Kolonial Belanda dalam mengecilkan peran puak Melayu , istilah –istilah seperti menjadikan bangsa melayu mau makan enak tapi kerja malas dijadikan alat propaganda dikarenakan pada masa tersebut masyarakat melayu dimana kekuasaan atas tanah di miliki oleh datuk- datuk di masing-masing wilayah tidak memberikan konsesi sewa menyewa kepada kolonial , dan masyarakat melayu tidak mau bekerja di perkebunan Belanda, dengan berbagai cara melemahkan dari stuktur budaya dimana diciptakan Buruh-buruh Kebun yang sejatinya adalah warga keturunan China yang di datangkan untuk bekerja dikebun-kebun Belanda sebagai alat melemhakan bangsa melayu dan diciptkan slogan “ Melayu Malas, China Rajin “

Upaya Melemahkan Kekuatan Melayu , Pihak Kolonial menjadikan Keturunan China yang asalnya adalah buruh Perkebunan menjadi alat perjuangan sosial ekonomi melawan kekuatan kaum pribumi dengan memberikan akses dalam perdagangan berupa  legalitas sebagai kaum pendatang dengan kemudahan-kemudahan dan dibalik kesemuanya warga keturunan china tetap menjadi alat dan mesin mengumpulkan pundi-pundi pejabat kolonial dimasa itu ( Kisah ini masih terjadi di Bangsa Ini hingga sekarang walupun sudah Meredeka 66 Tahun ).

Idiom-idiom  dalam pembatasan kekuasaan dan politik dalam melemahkan sebuah peningkatan masyarakat melayu  di pola dan dibentuk sedemikian rupa dengan dan cara yang sangat halus ( hal ini dapat dilihat diliteratur Snock Horge  dalam memecah kekuatan Masyarakat di Aceh ),  dimana dipola antara kekuatan kesultanan yang  di citrakan sebagai Feodalisme dengan kehidupan yang berkemewahan dan berupaya memutus mata rantai kekuasaan yang mengakar ke masyarakat, menjadikan Simbol-simbol agama di bentuk sebagai alat perjuangan di minimalisir dengan menjadikan masjid sebagai tempat beribadah semata bukan sebagai tempat sosial kemasyarakatan , upaya ini juga di dorong dengan di pelataran masjid di jadikan makam atau kuburan serta dicitrakan kisah-kisah mistis dengan keangkeran dan ditanami pohon-pohon besar dan tidak terawat yang menjadikan sebuah cerita yang mengakar sehingga teputusnya ruang sosial masyarakat.

Upaya Pembatasan Antara Kalangan Kesultanan dan Masyarakat kebanyakan di lakukan sekat-sekat budaya dimana di bentuk sentra-sentra pemukiman dan wilayah dimana terlihat di kota medan di wilayah Kesawan dijadikan pusat masyarakat china sebagai areal perdagangan , diwilayah Perdagangan bangsa Hindustan  disediakan areal di wilayah kampung keling ( sekarang Kampung  Madras), Masyarakat di wilayah Kota matshsum didiami dari kaum suku minangkabau, didaerah padang bulan didiami oleh etnis batak , wilayah pesisir pantai oleh etnis suku melayu, dan suku Jawa lebih berada di wilayah Perkebunan –perkebunan.

Upaya pengelompokan masyarakat dirasa sangat efektif untuk menjadikan masyarakat untuk tidak saling berinteraksi satu dengan lainnya dalam melakukan kerjasama dalam melemahkan perlawana terhadap bangsa pribumi melawan kolonial belanda dengan sistem de vide in de pera.

Penguasaan Konsesi Perkebunan yang sejatinya adalah lahan-lahan dari seluruh datuk yang berada di wilayah kesultanan membuat kesepakatan  sewa menyewa tanah ( Hak Guna Usaha ) antara Kesultanan sebagai Pemangku wilayah dengan datuk sebagai Pemilik sah atas Tanah yang didiaminya atas dasar Kesepakatan Tersebut Kesultanan membuatkan surat kepemilikan atas tanah tersebut dalam sebuah nota yaitu Grant sultan yang memuat batas-batas wilayah. Dalam Masa Kesultanan sebagai Kuasa atas Pemerintahan masyarakat Adat yang diberikan wewenang oleh kedatukan secara legalitas formal melakukan konsesi atau sewa menyewa atas lahan yang dijadikan Perkebunan / Afdeling dengan pihak kolonial belanda, dikarenanakan secara hukum internasional pada masa VOC memiliki kesepakatan dagang , dimana disepakati bahwa pihak asing tidak memiliki wewenang memiliki ataupun menguasai wilayah yang diatasnya bermukim sebuah masyarakat.

Dari Kesepakatan Tersebut upaya legalitas formal penguasaan lahan tidak bisa dilakukan VOC bila berhubungan langsung dengan Kedatukan , Upaya legalitas di percayakan kepada Kesultanan dimana membahi luhak-luhak/ wilayah bahagian dalam melakukan kerjasama dengan kedatukan dalam pengeloaan hak atas tanah. Setelah  pelaksanaan Atas Tanah Kesultanan membagikan keuntungan dari Konsesi Tersebut kepada kedatukan di wilayah masing-masing. Secara Umumnya Ketika Kepemilikan Atas Tanah adalah milik Kedatukan dan Kesultanan yang di lakukan para Tengku ( Status Sosial  dalam menyebutkan jabatan pemerintahan) hanyalah mencatatkan administrasi , ketika terjadi revolusi sosial surat-menyurat dan kuasa kedatukan terhadap Kesultanan akhirnya hilang dan musnah yang tersisa adalah grant sultan yang memuat konsesi antara kesultanan dan Pihak Asing yaitu bangsa Netherland yang pada masa itu terarsipkan dengan baik oleh pihak asing.

Masa Kemerdekaan ketika sebuah Proklamasi di kumandangkan dan Bangsa Belanda akhirnya menyerah kepada Jepang seluruh Kepemilikan perkebunan akhirnya diambil alih oleh Pemerintah Indonesia, asset yang di miliki oleh pihak belanda secara hukum internasional menjadi kepemilikan bangsa indonesia. Kepemilikan yang diatur dalam Sewa menyewa dalam HGU ( Hak Guna Usaha ) yang sebenarnya telah selesai menurut UUPA  yang pada zaman presiden soekarno harus dikembalikan kepada rakyat yang sejatinya  adalah kepemilikan Kedatukan di masing-masing wilayah.

Secara Urutan Hukum Pertahanan adalah Stablat yang diyakini sebagai Grant sultan ( berbahasa Arab Melayu ) menjadi dokumen yang syah dan memiliki ketetapan hukum dan menjadi alat bukti kepemilikan sebuah wilayah kedatukan. Selanjutnya dasar dari Badan Pertanahan dan Agraria  mengeluarkan surat Kepemilikan berdasarkan Aturan Pemerintahan. Namunpun begitu Ada beberapa Kepemilikan Berdasarkan Grant sultan yang  tidak dapat di perjual belikan ataupun memiliki kekuatan hukum tetap dalam kepemilikannya, dimana wilayah tersebut telah menjadi wilayah yang bebas di tempati oleh siapapun ( Diareal belakang pemukiman masjid Azizi, wilayah Sekitar Besilam tempat Tarekah Nasaqabandiah).

Dari urutan Kisah sejarah Bangsa Melayu struktur budaya  di masyarakat untuk sebutan atas Gelar Tengku lebih tepatnya adalah strata sosial untuk menyebutkan peran sebagai pelaksana kegiatan pemerintahan pada masa kesultanan dalam menjalankan tugas dimasyarakat, selanjutnya Datuk adalah penguasa wilayah dimana bermukim masyarakat dan sebagai penghulunya atau lebih tepat kepala Adat,  dan penyebutan Gelar O.K ( Orang Kaya ) adalah gelar pada masa kesultanan yang diberikan kepada Para Pedagang dalam berniaga dimasa kesultanan dalam membedakan setiap tingkatan di masyarakat. Ada Sebutan Mak Inang ( Lebih tepatnya Pengasuh Anak-Anak sultan)  dan tertuang dalam lagu Mak Inang Pulau Kampai ( p. Kampai wilayah Pangkalan susu).


« Older entries

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.